Yak, akhirnya aku berhasil turing ke kota antah berantah bagiku, Pekalongan. Prestasi ini membanggakan bagiku karena baru pertama kali ini pergi ke kota yang belum pernah kukunjungi sendirian. Ke Jogja pertama kali ditemani mamaku (walau kemudian beliau kembali dan aku tinggal dengan anak-anak GBI sampai dicariin kos-kosan plus hibah perlengkapannya), ke Jayapura aku dijemput tim GI, ke Jakarta aku dijemput kakakku, tapi ke Pekalongan ini aku sendirian. Hehehe….
Month: <span>January 2009</span>
Jam 22.30, aku cek e-mail ternyata ada pemberitahuan tentang magang bagi CPNS DJP. Informasinya dapat dilihat juga di sini, sedangkan lebih detail dapat dilihat di website registrasi online. Selamat bekerja…
Onizuka Eikichi barangkali menjadi figur guru dambaan banyak orang. Guru yang revolusioner, tidak menghakimi, tidak mendikte, tidak mau menang sendiri, dan sangat pintar mengembangkan potensi anak didiknya. Onizuka mampu menjadi guru tanpa jarak dengan murid-muridnya. Ia pun mampu menjadi sahabat dan dapat diandalkan.
Membaca artikel detiksport yang penuh komentar miring soal Manchester City yang berusaha menjadi klub besar, aku tergugah untuk membuat artikel pembelaan. Tak kurang Fernando Torres, David Beckham, dan Flavio Briatore (bos tim Renault di F1 dan bos Queen Park Rangers) mengutarakan ketidakpercayaan akan kekuatan uang Manchester City untuk membawa kesuksesan ke klub ini.
Pertanyaan ini langsung menghujam pikiranku begitu mataku menangkap citra sebuntel sampah yang hanyut di sungai. Kebetulan aku sedang duduk menunggu pembeli di warung mi ayamku yang di pinggir sungai sambil sesekali meneguk teh hangat dan penglihatanku menerawang ke perairan.
Kenapa ya, orang suka buang sampah di sungai? Oke, barangkali ini salah satu alasan bagus. Orang malas datang ke TPS (tempat pembuangan sampah, bukan tempat pemungutan suara) yang letaknya biasanya jauh dari pemukiman mereka hanya untuk buang sampah. Lalu mereka mencari alternatif. Tanah mangkrak yang dulu biasa disasar para pembuang sampah kurangajar ini kebanyakan sekarang dipagari atau sekedar diberi tulisan “dilarang buang sampah di sini” yang kalau tetap nekat buang sampah di situ bakal diteriaki bak maling jemuran.
Tampaknya Semarang akan mengikuti jejak Jakarta dan Yogyakarta soal busway, dengan sistem BRT yang sedang dibangun. BRT, Bus Rapid Transit, sedianya akan menjadi transportasi massal yang cepat, aman, dan nyaman. Dan sama seperti busway di Jakarta dan Jogja, BRT hanya akan berhenti di koridor-koridor tertentu yang memang disediakan khusus untuknya. Tentu tidak ada sistem “ngetem” untuk BRT.