Tampaknya Semarang akan mengikuti jejak Jakarta dan Yogyakarta soal busway, dengan sistem BRT yang sedang dibangun. BRT, Bus Rapid Transit, sedianya akan menjadi transportasi massal yang cepat, aman, dan nyaman. Dan sama seperti busway di Jakarta dan Jogja, BRT hanya akan berhenti di koridor-koridor tertentu yang memang disediakan khusus untuknya. Tentu tidak ada sistem “ngetem” untuk BRT.
Apakah BRT akan sukses mengurangi kepadatan lalu lintas? Tunggu dulu. Ada beberapa hal yang dapat kita bahas terlebih dahulu. Pertama, dari sisi tarif. Jika satu tiket harganya 2.500 rupiah, apakah mampu bersaing dengan biaya transportasi kendaraan pribadi? Jika menggunakan BRT dan diasumsikan seseorang membutuhkan 2 tiket pulang-pergi untuk sehari, maka total biayanya 5.000 rupiah. Sedangkan menggunakan sepeda motor, dengan uang 5.000 rupiah orang bisa membeli 1 liter bensin yang dapat dipakai untuk beberapa kali perjalanan pulang-pergi. Okelah kita asumsikan 1 litaer bensin bisa dipakai untuk 2 kali PP, maka tetap saja biaya transportasi menggunakan BRT 2 kali lebih mahal dibanding biaya menggunakan kendaraan pribadi berjenis sepeda motor.
Kedua, dari sisi efisiensi. Halte yang jauh dari tempat tujuan tentunya menjadi nilai minus bagi penggunanya. Orang lantas berpikir, mengapa harus bersusah payah naik BRT kemudian masih harus berjalan cukup jauh untuk sampai tujuan, jika dengan kendaraan pribadi orang bisa langsung sampai di muka pintu?
Memang, pertambahan jumlah kendaraan pribadi yang amat pesat patut menjadi perhatian para pembuat kebijakan, demi mencegah kemacetan akut parah seperti yang terjadi di Jakarta. Namun tampaknya BRT bukanlah solusi terbaik ketika setiap orang mampu mendapatkan kendaraan pribadi dengan syarat yang amat mudah. Dengan uang muka sangat rendah orang sudah bisa menikmati kenyamanan kendaraan pribadi, sehingga populasi kendaraan di jalanan pun meledak dengan dahsyatnya.
Masyarakat menginginkan transportasi yang cepat, mudah, dan murah, dan hal-hal ini tentunya harus mampu dipenuhi oleh BRT jika ingin mensuksesi keberadaan kendaraan pribadi milik masyarakat.
wew … sekarang udah lewat terus brt nya …
iya tuh. udah nyoba blum?