Mengenang Adam Nur Iman

Kebaikan-kebaikan kecil bisa mengubah hidup seseorang. Itulah yang kusadari belakangan ini, setelah menemukan obituari seorang sahabat lama. Adam Nur Iman. Berpulang bulan lalu. Aku tak akan tahu bila tak sedang iseng googling nama-nama dari memori dekade lalu.

Di masa lalu, tidak hanya satu saja orang yang membantuku melalui masa-masa susah. Mulai 1997, tetapi terutama di tahun-tahun 2003 hingga 2007. Kurang lebih empat tahun yang tak mudah. Beberapa nama yang masih kuingat, barangkali akan kutulis lain kali di sini. Tapi kali ini tentang Adam.

Adam memang bukan seangkatan. Kami 2003, ia 2002. Tapi kebanyakan kelas yang ia ambil ya berbarengan dengan angkatan kami. Tak bisa kuingat awal mula pertemanan, tapi ia akrab denganku dan beberapa teman lain, di antaranya Karnan dan Darma.

Tak butuh waktu lama untuknya tahu, aku bukan orang berpunya. Makanya sering dia mentraktirku, di warung langganannya. Tak terhitung berapa kali makanku dibayarinya, selama beberapa tahun itu. Tumpangan pulang pun tak jarang ia berikan, terutama karena rumah kosnya sejalur denganku.

Hey jangan lupa, ia yang membantuku membawa CPU saat ujian di kampus. Pun saat pulang, sepeda motornya jadi alat transportasiku sambil menggamit CPU yang sama, kembali ke kamar kos. Sambil patah hati karena gagal ujian. Tak hanya selesai antar-mengantar, ia pun menguatkan kembali semangatku hingga tak lama kemudian aku mengulang ujian. Hingga sukses juga akhirnya.

Memori lebih dari 15 tahun lalu ternyata tak dapat kuandalkan. Banyak cerita yang terlupa dan tak tertulis di sini. Ia sempat menemuiku di Jakarta untuk ujian pekerjaan. Bila tak salah, TVRI waktu itu. Masih kuingat, karena sempat kusewakan satu kamar di kompleks kosan yang sama. Tapi apa daya, kamarnya kebanjiran.

Ia berhasil masuk TVRI. Bertugas di Bandung. Masih sering update status akun Facebook-nya, berkisah tentang banyak hal. Petualangan bermotornya, kemacetan jalan Bandungnya, hingga soal pekerjaannya. Kecuali beberapa tahun terakhir. Sakit katanya. Pulang ke rumah orangtuanya di Kebumen. Lalu tak kudengar lagi kabarnya.

Hingga beberapa hari lalu, kutemukan berita dukacitanya di akun Instagram TVRI.

Adam memberiku teladan, bahwa kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan bisa mengubah hidup orang lain. Ia mungkin tak menyadari betapa besar dampaknya terhadap kehidupanku hingga sekarang.

Hanya satu sesalku. Tak sempat kukatakan, betapa besar utang budiku padanya. Diriku yang kini tinggal di luar negeri dengan titel Ph.D., tak akan ada tanpa kebaikannya selama studiku di Jogja.

Terima kasih banyak, Dam. Selamat jalan.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.