Di bidang teknologi yang saya geluti sekarang ini, saya menemukan berbagai karakteristik orang-orang yang menyebut dirinya sebagai pakar. Karakteristik-karakteristik tersebut rupanya sangat cocok bila dipetakan dalam diagram Dunning-Kruger.

Diagram Dunning-Kruger memang berasal dari bidang psikologi yang dapat menjelaskan hubungan antara perilaku/kepercayaan diri seorang pakar dengan tingkat pengetahuan yang sebenarnya dia miliki.
Dalam sebuah seminar, saya bertemu dengan seorang guru besar, yang merupakan guru dari guru saya sekarang ini. Saya mengira bahwa sesi tanya jawab akan dapat dia atasi dengan amat mudah. Namun nyatanya, berkali-kali ia mengatakan “saya tidak tahu”.
Rupanya, seorang pakar yang baik tahu kapan ia menyatakan ketidaktahuannya, bila pertanyaan itu memang di luar bidang kepakaran dia. Hanya saja, amat sering kita tidak mendapatkan kesempatan untuk mengatakan “saya tidak tahu” demi memuaskan hasrat si penanya sekaligus menyelamatkan reputasi kita.
Padahal bila ditelisik lebih jauh, jawaban yang salah justru bisa menghancurkan reputasi dalam sekejap.
Perjalanan menjadi pakar artinya harus melalui mount stupid di mana kita merasa tahu segalanya, percaya diri amat tinggi, dan merasa berada di puncak dunia. Setelah itu, (untungnya) kita disadarkan bahwa masih banyak ilmu yang belum dikuasai, dan dengan demikian menghantam rasa percaya diri yang setinggi gunung tadi, masuk ke dalam lembah keputusasaan (valley of despair).
Dari dasar lembah itulah kita merefleksikan ulang diri kita, belajar lagi, dan memulai segalanya dari awal. Justru inilah awal dari pencerahan yang sebenarnya, menuju jalan kepada tingkat kepakaran yang paling tinggi (guru) karena telah mendapatkan kebijaksanaan (wisdom) saat kita berefleksi.
Dunning-Kruger effect juga sebenarnya amat berguna untuk bercermin, sejauh mana kita menguasai satu bidang. Jika kita dengan mudahnya membusungkan dada, maka waspadalah, jangan-jangan kita masih berada di mount stupid.
Sumber gambar: marketcalls.in
Be First to Comment