Menulis Buku Itu

Oh la la, sudah 2 bulan saya nggak nulisin blog ini. Sudah tidak aktif, masa berlaku domainnya juga hampir habis pula. Pangkal masalahnya mungkin karena jumlah pengunjung yang bisa dihitung dengan jari setiap harinya. Tapi bagaimanapun, sudah sejak 2006 saya selalu punya blog pribadi yang isinya ya cuma begitu-begitu saja. Kadang malah cuma 1-2 kalimat terus udah. Pas mau nulis idenya ada di kepala, eh begitu sampai di laman post-new, idenya buyar.

Barangkali itu sekelumit susahnya penulis blog. Memang lebih enak membaca daripada menulis. Lha menulis itu effortnya berkali-kali lipat je. Mulai dari mencetuskan ide (ting, lampu menyala di kepala), menyusun alur ide (karena nggak mungkin langsung tembak pokok pikiran, karena pembaca mana yang bisa paham dengan cara penyampaian yang demikian), kemudian benar-benar menuliskannya (atau mengetiknya, untuk lebih presisi). Belum lagi kalau si penulis memang bener-bener niat bikin tulisan yang canggih, semestinya ada post-production yang termasuk membaca ulang tulisan itu, mempermaknya habis-habisan (uh well, yang ini jarang sekali dilakukan kecuali memang mau bikin paper proceeding atau jurnal), baru kemudian menekan tombol “Publish”. Setelah itu kalau masih ada errata (dan pas malesnya nggak keluar), diadakan revisi.

Nulis buku jauh lebih susah lagi. Usahanya berkali-kali lipat dibandingkan menulis artikel dalam blog pribadi yang sangat jarang ditulis dengan serius. Nah buku inikan tujuannya dijual (dan mendapatkan profit, semoga saja demikian), ya tentunya mesti mengikuti selera pasar (dan juga selera penerbit, editor, co-authors, dan pihak-pihak lain) yang mau tidak mau bikin tulisan kita hampir sulit dikenali sebagai tulisan kita sendiri. Ha!

Gak kebayang nulis sebuah buku selama setahun oleh penulis-penulis profesional seperti mbak Dewi Lestari yang saya kagumi karya-karyanya. Atau mas Dhimas Wisnu Mahendra yang mesti berjibaku (sambil nyanyi, barangkali) mencari penerbit (dan ditolak-tolakin) hingga bukunya bisa nangkring di toko buku (buku terakhirnya Soul Traveler yang ditulis beramai-ramai konon kabarnya sold out). Mereka-mereka itu pintar menulis cerita. Tapi mau pintar bagaimana ya tulisan harus tetap melalui proses yang tidak sebentar. Coba bayangin setahun nggak ngapa-ngapain, cuma nulis yang itu-itu aja. Lha wong saya yang baru 3 bulan mroyek aja udah bosen. Itu mereka nulis fiksi loh ya. Fiksi itu tokohnya mau dibikin tiba-tiba lahir juga bisa. Atau si lakon berubah jadi musuh dan musuh berubah jadi lakon untuk bikin twisted ending yang sempet populer beberapa tahun lalu itu, bisa banget. Lha kalo non fiksi?

Kan ya nggak bisa nulis buku tentang bitcoin tanpa pernah beli bitcoin. Nggak bisa menjelaskan apa itu bitcoin tanpa tau teknik-teknik kriptografi (supaya bukunya make sense dan menarik bagi kalangan intelektual, halah). Coba sekarang saya ngaku-ngaku sebagai Satoshi Nakamoto yang tersohor itu dan membuat seolah-olah sayalah penemu bitcoin. Kan ya nggak bisa. Buktinya apa?

Nulis nonfiksi itu nggak kalah menguras waktu (dan tentunya tenaga buat mikir dan ngetik, juga tenaga buat debat sama penerbit, editor, co-authors, dan pihak-pihak lain, bersikeras bahwa ini buku yang cukup bagus untuk diterbitkan). Akses terhadap jurnal dan buku-buku luar negeri nan berkualitas juga harus ada, soalnya nulis topik bitcoin kalau cuma modal buku dalam negeri nanti hasilnya cuma buat pemasaran MLM – bukan bermaksud mencela kualitas penulis dalam negeri tentunya, tapi waktu itu memang belum ada buku sejenis ini, suer -). Cuman sialnya buku nonfiksi itu jauh lebih nggak laku di pasaran, apalagi si penulis cuma timbul-tenggelam alias nulis 1-2 buku terus menghilang di lautan dan hanya segelintir yang mampu bertahan seperti Marthen Kanginan yang terus diingat hingga puluhan tahun oleh para penggemarnya yang mantan siswa SMA. Juga Bapak Abdul Kadir yang multitalenta, menulis buku berbagai bidang, mulai dari pertanian hingga teknologi informasi, dari bahasa fosil macam Turbo Pascal hingga bahasa sejuta umat PHP dengan anak buahnya Javascript dan CSS. Itu belum termasuk buku-buku pelajaran tingkat anak kuliahan yang mungkin masih dipakai sampai sekarang oleh adik-adik kelas saya di UGM sana.

Yang jelas, jika Anda bukanlah tokoh-tokoh tenar seperti yang sudah saya sebutkan di atas, profit itu cuma ada di angan-angan belaka. Kalau mbak Dewi Lestari dan mas Tere Liye ngomongin soal ketidakadilan rate pajak yang dikenakan pada mereka, penulis cere macam saya mestinya berteriak lebih kenceng karena cuma ada rugi di kantong saya alias gak profit. Oh ya barangkali ada profitnya, cuman itu nggak cukup buat nutup modal. Jangankan nulis buku cetak yang sudah jelas ongkosnya nyata, lha bikin buku imajiner (e-book) saja butuh duit. Sekarang ini konsumen e-book di Indonesia ya cuma segelintir kaum perlente yang pulsanya rada banyakan dan punya smartphone agak gedean jadi lumayan enak buat baca buku. Sementara yang lain-lain cuma nanya (atau nyari) ada pdf-nya atau enggak.

Seperti yang sudah saya sampaikan, buku nonfiksi itu segmennya sangat sempit, apalagi kalau topik yang ditulis cuma punya cerukan pasar seupil, macam buku saya itu. Ya memang, mereka yang pernah denger istilah bitcoin sekarang sudah mulai banyak, tapi mungkin nggak banyak yang curious enough buat beli buku teknis bitcoin. Ya sebenarnya sama juga nasibnya dengan buku-buku pemrograman, gak akan dibeli kalau memang nggak ada niatan jadi programmer atau paling enggak belajar jadi programmer, karena buku-buku macam ini paling enak jadi buku pengantar tidur. Baca 5 menit lalu mengantuk, apalagi yang tulisannya kecil-kecil, rengket-rengket, dan ukurannya tebel.

Buat para penulis minor jurusan nonfiksi, uang semestinya memang bukan jadi tujuan utama. Pak Andri misalnya, sebelum nulis buku memang sudah terkenal sebagai pakar, tapi setelah bukunya keluar, kepakarannya makin menjadi-jadi. Sedikit beda dengan saya karena nggak mampu terbitkan buku fisik, tapi ya memang cuma buat nge-golkan aplikasi beasiswa saya, udah itu tok.

Cuma ya saya jadi ikutan miris aja. Buku itukan mestinya bukan sekedar bertujuan profit, tapi juga sebagai media pembelajaran bagi masyarakat dan alat supaya ilmu pengetahuan tidak hilang ditelan zaman. Sekarang kalau orientasinya semua profit ya jadinya kayak begini, gak ada orang yang mau nulis buku karena udah tau hasilnya cuma buntung (bukan impas apalagi untung). Padahal banyak juga dari mereka yang punya bidang kepakaran tertentu (meski dalam bidang akademis ada jalur proceeding, journal, dan book chapter, tapi siapa sih yang baca kalau bukan dari kalangan akademisi juga?) yang applicable juga untuk khalayak umum. Dari dulu saya jarang ke toko buku, bahkan setelah punya cukup uang, karena tau rak-rak di bagian komputer isinya cuma itu-itu aja.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.