Pagi ini saya membaca email dari marketing AccessData yang isinya cukup menggelitik. Judulnya “Numbers Don’t Lie”. Inti dari email kali ini adalah untuk meng-counter sebuah klaim dari GSI (Guidance Software) sebagai developer EnCase dalam salah satu entry blog mereka yang dapat Anda baca di sini. Mereka melakukan uji komparasi kinerja antara EnCase dengan produk lain yang mereka sebut “competitor’s product”. Jelas, ini mengacu pada FTK sebagai arch-rival EnCase, karena kedua produk inilah yang masyur di kalangan digital forensic examiner.
Category: <span>Forensic</span>
Pagi ini ada sebuah email menarik, tentang penawaran software forensik FTK dengan harga khusus. Nah, mari kita lihat gambarnya.
Seorang manajer menghapus (shift+del) folder miliknya dalam file server sesaat sebelum ia dipindahtugaskan ke kantor cabang lain. Celakanya, di dalam folder yang diklaim berisi data-data pribadinya, ternyata juga berisi berkas-berkas yang terkait dengan pekerjaan yang krusial. Kejadian ini baru diketahui oleh teman-teman kantor dan bawahan-bawahannya seminggu kemudian, dan setelah dikonfirmasi kepada si manajer, ia tidak menyimpan kopian folder tersebut.
Seseorang bertanya, “Bisa diforensik?”
Sebelum melakukan pemrosesan digital evidence, prosedur standar yang harus dilakukan oleh seorang forensor terhadap evidence yang ditemukan pada crime scene adalah membuat duplikatnya. Tentu saja, duplikat dari evidence tersebut harus benar-benar identik, yang ditandai dengan nilai hash yang sama. Untuk membuat duplikat (best evidence maupun evidence image) dari digital evidence, forensor harus benar-benar memastikan bahwa alat-alat yang dipakainya tidak melakukan perubahan pada evidence. Caranya adalah dengan menggunakan write blocker, dengan Tableau write blocker sebagai salah satu contoh produknya.