Jeh, baru kali ini hidup di tengah-tengah air. Air kotor! Semarang banjir! Tlogosari banjir!!!
Hari Minggu jam 4 pagi aku dibangunkan ayahku agar bersiaga demi air yang siap menyergap rumah kami. Ketinggian air sudah mintip-mintip, sedikit di bawah tanggul kecil di pintu depan, sementara hujan deras terus saja turun. Setelah beberapa saat mulai muncul genangan air, tetapi bukan dari pintu melainkan dari bagian belakang rumah. Ternyata ada mata-mata air kecil yang keluar dari celah-celah tegel. Ayahku pun menginstruksikanku untuk mencari sumbernya dan menutupnya dengan malam (lilin permainan) warna-warni. Perburuan dimulai! Sambil jongkok dan nungging-nungging, berbekal senter dan malam, aku memburu sumber air. Setelah itu aku berusaha membuang air yang menggenang dengan serokan, mirip awak perahu yang membuang air dari perahu bocor agar tidak tenggelam.