Jeh, baru kali ini hidup di tengah-tengah air. Air kotor! Semarang banjir! Tlogosari banjir!!!
Hari Minggu jam 4 pagi aku dibangunkan ayahku agar bersiaga demi air yang siap menyergap rumah kami. Ketinggian air sudah mintip-mintip, sedikit di bawah tanggul kecil di pintu depan, sementara hujan deras terus saja turun. Setelah beberapa saat mulai muncul genangan air, tetapi bukan dari pintu melainkan dari bagian belakang rumah. Ternyata ada mata-mata air kecil yang keluar dari celah-celah tegel. Ayahku pun menginstruksikanku untuk mencari sumbernya dan menutupnya dengan malam (lilin permainan) warna-warni. Perburuan dimulai! Sambil jongkok dan nungging-nungging, berbekal senter dan malam, aku memburu sumber air. Setelah itu aku berusaha membuang air yang menggenang dengan serokan, mirip awak perahu yang membuang air dari perahu bocor agar tidak tenggelam.
Namun itu tak bertahan lama. Sekitar sejam kemudian, air melompati tanggul depan dan tanpa permisi mengajak teman-temannya masuk rumah dan menggenanginya. Tak ada lagi yang bisa kulakukan, karena penahan kayu di atas tanggul itu bobol. Sigap aku mengungsikan barang-barang berhargaku : baju-baju, sepatu, tas, printer, dan kabel-kabel komputer.
Pagi itu air menimbun lantai rumah setinggi 16 cm, dan terus naik. Lelah, aku beristirahat di lantai atas. Tak bisa berangkat ke Gereja.
Hari sudah agak siang, ketinggian air mencapai 20 senti. FYI, aku mengukur ketinggian air ini menggunakan penggaris, jadi keakuratannya dapat dipertanggungjawabkan 🙂 Ayahku keluar rumah untuk mengecek keadaan warung. Aku pun ikut keluar, dan kudapati bahwa jalanan di depan gang rumah terisi air setinggi 40 cm! Pun di sana-sini banyak kendaraan bermotor termasuk mobil mogok karena mesinnya kena air. Tak hanya itu, banyak orang juga tercebur ke sungai dan selokan karena batas jalan dan selokan sama sekali tak kelihatan. Airnya sungguh keruh. Suatu kejadian langka kurasa.
Kakiku yang sudah terasa pedih karena tersaruk-saruk kerikil kuseret pulang. Tiduran dan membaca diktat, hanya itu kegiatanku hingga malam tiba. Makanan pun jadi sesuatu yang langka, tapi untunglah kami masih bisa makan seadanya.
Aku menghibur diriku dengan memburu ikan-ikan sepat yang ikut menyambangi rumahku. Namun sayang, tak satupun ikan berhasil kutangkap. Tak ada bakat cari ikan rupanya.
Jam 9 malam, saatnya menonton pertandingan Catania – Juventus. Ah, untung listrik masih menyala. Air pun rupanya telah sedikit surut, dan kami pun segera mengusahakan semua yang bisa untuk menghalau air dari rumah. Hambatannya adalah air yang keluar dari celah-celah lantai makin banyak dan deras. Ya sudahlah, ditambal sebisanya.
Untung Juve menang, aku pun terus bersemangat hingga tenagaku habis tepat pukul 1 dini hari, hari Senin. Lelah, aku tidur.
Pagi ini aku memutuskan tak berangkat ke Pekalongan, bolos magang karena pertimbangan genangan banjir yang masih melanda beberapa daerah di Semarang, dan dari informasi kudapati bahwa kemacetan parah terjadi di Kendal. Ya sudahlah, force majeur begini tak bisa disalahkan.
Ketika air benar-benar surut (kecuali yang keluar dari celah lantai yang masih terjadi sampai sekarang), tinggallah kotoran yang ternyata berbau amis. Arrgghhh…. kerja bakti lagi deh T_T
Be First to Comment