Ini adalah cerita tentang anak-anak suku Dani di Kabupaten Puncak Jaya, di kota Mulia tepatnya.
Minus dan Lison, begitu mereka memperkenalkan diri padaku dan teman-temanku yang jadi penghuni baru rumah sewaan. Kedua orang suku asli ini beserta beberapa temannya akan diperbantukan di rumah ini. Diperbantukan. Jadi babu.
Tentu saja bukan keinginanku, karena aku sendiri juga menumpang di rumah ini.
Kami ini rombongan konsultan yang didatangkan dari Jayapura ke kota Mulia ini untuk mengerjakan proyek keuangan daerah. Tentu saja kami diberi sambutan hangat oleh bupati dan kami pun tak perlu memikirkan fasilitas hidup karena telah disediakan.
Keadaan anak-anak ini sangat menyedihkan bagiku. Minus tinggal di honai, rumah adat asli suku-suku di Papua, tak jauh dari rumah yang kutinggali. Jika engkau pernah menonton film Denias, begitulah keadaan di dalam honai, yang kebetulan pernah kumasuki ketika berkunjung ke tempat tinggal Minus. Bagi yang belum pernah melihat honai, bayangkanlah sepetak tanah yang dialasi jerami, pagarilah tanah itu dengan kayu-kayu dan tutup atasnya dengan jerami. Tak heran, penyakit utama penduduk di sini adalah ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) karena asap dari tungku yang ada di tengah honai tak punya jalur keluar. Maka terhiruplah asap itu ke dalam paru-paru penghuninya dan menjadi sumber penyakit.
Mereka tak punya sumur. Sebuah sungai jernih tak jauh dari honai menjadi sumber air bagi segala kebutuhan sehari-hari mereka. Mereka kebanyakan memiliki sebidang kebun yang ditanami berbagai sayuran yang hasilnya tentu saja tak seberapa, karena tanah di sini tak sesubur tanah Jawa. Pun begitu mereka tak pernah berhenti menanam.
Minus memiliki beberapa ekor babi sebagai binatang peliharaan yang bakal jadi tumpuan penghasilan dan bahan makanan paling disukai penduduk. Dan aku senang ketika melihatnya bermain bola. Sangat lincah. Tendangan, gocekan, dan lifting yang biasa ia lakukan jauh di atas rata-rata anak-anak seusianya di daerah asalku. Barangkali bila Leonardo (scout AC Milan) menemukannya, 10 tahun lagi ia akan menjadi The Next Kaka….
Bila Minus masih beruntung bisa tinggal dekat dengan keluarganya, Lison tidak. Ia berasal dari suatu daerah jauh yang bernama Ilu. Perjalanan ke sana dengan berjalan kaki akan menghabiskan waktu beberapa hari. Bisa juga ditempuh dengan sepeda motor, tetapi jangan harap perjalanan akan menyenangkan. Pernah satu kali aku mencoba trek ini, dan aku pulang dengan 3 jahitan di telapak kaki. Lison ini masih berumur antara 7-9 tahun, tidak bersekolah dan tak lancar bicara bahasa Indonesia. Tak lancar bahasa Indonesia, seriously! Bila Anda mengira semua orang Indonesia pintar bahasa Indonesia, Anda salah besar. Bahkan melafalkan abjad pun Lison tak mampu. Antara huruf s dan t, huruf mati c dan z, semuanya amat sulit bagi lidah suku Daninya.
Jangan pikir aku membiarkannya buta huruf begitu saja, telah beberapa kali aku berusaha dengan keras untuk mengajarinya, namun ternyata amat sulit dilakukan. Amat sukar.
Lison amat miskin. Jika di rumah kami tak ada bahan makanan, ia tak makan. Mi instan dan nasi adalah makanan mewah baginya. Apa lagi sarden. Mi instan, nasi, dan sarden, inilah makanan kami selama beberapa bulan di sini, karena seporsi makanan di warung minimal seharga 15 ribu rupiah. Anda pernah bersungut-sungut saat harga bensin naik menjadi 6 ribu rupiah? Well, ketika di Jawa harga bensin 4.500, di sini seliter bensin ditebus dengan uang 35.000 rupiah!
Lison tak mandi jika tak disuruh. Bajunya hanya sepasang, dan tak pernah beralas kaki. Aku memberinya sebuah jaket agar tubuh kecilnya sedikit terlindungi dari hawa dingin yang merasuk sampai ke tulang. Kota ini terletak di ketinggian sekitar 2.000 dpl dan sangat dingin. Amat dingin.
Agar Lison punya tambahan penghasilan, kami biasa menyuruhnya mencuci baju-baju kotor kami. Dan ketika ia selesai menjemurnya, ia akan mendapatkan selembar uang 20 ribu dari tiap-tiap orang yang menyuruhnya mencuci.
Ia sangat loyal, terutama padaku yang mungkin telah dianggapnya sebagai kakak.
Ketika aku harus pindah tugas ke kabupaten lain, aku mencoba menitipkan kedua anak itu pada seorang teman yang berdomisili di sana. Namun sayang, temanku tak pernah menemukan mereka. Kabarnya Lison kembali ke tempat asalnya karena kakaknya sakit keras, sedangkan Minus pergi ke Tingginambut bersama rombongan tentara.
Ah, anak-anak ini. Para pewaris negeri atas awan yang nasibnya masih tertutup kabut tebal.
ini terkait dengan beasiswa…beasiswa kabupaten puncak jaya sangat di perhatikan pada pendidikan namun mahasiswa angkatan tahun 2007/ dengan 2009 ini belum jelas beasiswa angkatan 2007/2009 ini diupayakan atau diteliti baik baik dalam menyangkut dengan biodata yang terlengkapnya,
anda selaku menangani bidang yang terkait pendidikan di jalankan dengan prosedur yang ada.
bukan saja membiayai oknum pada bersauda tapi. haruskan memandangkan mata membiayai siapa saja yang peting putra daerah yang bener bener yang terdaftar sebagai hak menerima.
begitu kepercayaan menyurukan mengambil biodata yang masing – masing universitas tapi begitu pula mengambil namun tiada realisasi dari semula sampai sekarang??
tolong bapak yang ini sangat perlu di keluarkan kabar??
Pak Wenda, di dalam artikel saya sama sekali tidak menyebutkan bahwa saya penanggungjawab bidang pendidikan di Kabupaten Puncak Jaya, dan saya hanya orang yang kebetulan pernah bekerja di Mulia selama 3 bulan sebagai karyawan kontrak sebuah perusahaan konsultan IT. Saya prihatin masalah pendidikan di sana, tetapi saya tidak punya kewenangan sama sekali terkait kebijakan pemerintah di bidang pendidikan.
Jadi bila Anda menyampaikan masalah pendidikan ke saya, saya rasa kurang tepat. Di Puncak Jaya ada dinas Pendidikan, barangkali Bapak sesekali bisa mampir ke sana dan menyalurkan aspirasinya.
Salam 🙂
ok pak makash yaaa?
sama-sama Pak Wenda.