The Power Of The Story

Postingan kali ini masih berkaitan dengan postinganku sebelumnya, yaitu resensi tentang film Korea, Daddy Long Legs.
Aku menonton film ini tadi siang sekitar jam 1; sekarang sudah jam 10 malam, tetapi aku masih terhanyut dalam cerita film ini.
Begitu kuatnya karakter yang dimainkan, dipadu dengan cerita yang tidak “begitu-begitu saja ala sinetron Indonesia”, membuatku mampu menghayati bagaimana perasaan Young-mi yang akhirnya ditinggal mati Jun-ho sang cinta sejati, setelah berjuang begitu rupa untuk menemukan cintanya.
Pun makin diperkuat dengan karakter Jun-ho, yang mencintai Young-mi selama 10 tahun tanpa mampu mengucap sepatah kata pun, yang pada akhirnya takdir membuat mereka merasakan kebersamaan walau itu tak berlangsung lama.
Perasaan yang ditinggalkan kedua karakter padaku tak mudah hilang begitu saja. Benar-benar outstanding! Keplok-keplok buat mereka. Hore.

Film Korea memang punya ciri khas. Tak mengandalkan dialog, karena justru para pemain sering sekali terdiam untuk mengungkap perasaan melalui ekspresi wajah. Ekspresi wajah, inilah kekuatan film Korea. Tak ketinggalan pula cerita yang memiliki alur yang teratur dan sangat dalam. Setiap adegan memiliki makna sendiri tetapi tetap tidak lepas dari konteks. Contohnya film Daddy Long Legs. Sudah 80 persen film kutonton, persepsiku adalah kisah cinta dalam film itu terjadi pada 2 pasangan yang berbeda. Persepsiku ini dihancurkan dengan menyajikan fakta-fakta baru dan aku mempersepsikan bahwa ini cinta segitiga. Namun pada akhirnya aku sadar telah dipermainkan alur. Film ini hanya tentang 2 orang pencinta!
Film Korea memiliki cerita yang bervariasi, tak pernah monoton. Beberapa yang pernah kuresensikan,, My Girl & I, 200 Pounds Beauty, dan tentunya Daddy Long Legs, ketiganya bertema cinta, namun alurnya tak pernah sama bahkan cenderung amat berbeda. Hebat. The power of the story rocks!

Bagaimana dengan film Indonesia? Aduh…
Paling muak aku dengan sinetron Indonesia yang penuh kekerasan rumah tangga. Tak habis-habisnya dendam antarkeluarga, atasan menganiaya bawahan, atau mertua memusuhi menantu. Tak menarik dan cenderung merusak karakter penonton. Atau jika tidak, kisah cinta remaja yang tak dewasa. Selalu ada cemburu di sana. Para pemain pun tak pernah bisa masuk ke dalam karakter secara penuh. Tangis atau tawa dilakukan sekenanya saja. Memuakkan. Terlebih orang Jerman yang berlogat British. So annoying.
Oke, selain sinetron di Indonesia sudah banyak film layar lebar. Setelah kesuksesan Ada Apa Dengan Cinta, film Indonesia menjamur kembali. Celakanya, seperti kembali ke tahun 70-an: kalau tidak film horor ya film selangkangan – meminjam istilah anak-anak kantinmilan di beberapa postingan yang kubaca.

Memang tak semua film Indonesia merusak mata. Ada satu-dua yang layak tonton seperti Ada Apa Dengan Cinta, Nagabonar, Nagabonar 2, Gie, dan beberapa yang lain yang memiliki karakter cerita yang kuat. Aku belum punya kesempatan menonton Laskar Pelangi, namun menurut penuturan beberapa orang, film ini bisa lah kita masukkan ke kategori film yang tak merusak mata.
Ayolah para sineas Indonesia, buat film bermutu!

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.