Satu-satunya jawaban yang bisa kudapatkan ketika memikirkan alasan mengapa taksi selalu ngebut ketika mengantarkan penumpang adalah, bahwa kecepatan mobil menjadi komponen yang menentukan tarif, di samping jarak tempuh.
Itulah sebabnya rata-rata taksi di Jakarta ini jalannya ngebut-ngebut, termasuk ketika melibas jalan kampung.
Aku tak habis pikir, mengapa seorang supir taksi, ketika disindir mengapa melarikan mobilnya begitu kencang, menjawab bahwa dia takut kena macet, di saat jalanan sedang amat lengang karena orang-orang sibuk berbuka puasa.
Aku juga sudah menganalisis dari beberapa kali menumpang taksi Gatot Subroto – Gambir, tarif akan melambung tinggi ketika jalanan tidak macet, tetapi akan stabil di sekitar angka 22-25ribu ketika jalanan sedikit macet di beberapa titik. Tetapi jalanan lengang adalah musibah, Anda bisa dikenai biaya mencapai 30ribu karena tingginya kecepatan dan singkatnya waktu tempuh dari titik asal ke titik tujuan.
Hey hey Mr. Driver, why don’t you drive a little bit slower. We don’t mind giving you extra money for you driving safely.
Aneh ya, keselamatan penumpang (dan pengemudinya) dipertaruhkan untuk mengejar setoran. Seharusnya kecepatan mobil tidak boleh jadi komponen yang menentukan biaya taksi.
Tidak aneh kalau aku menempatkan taksi sebagai kendaraan paling sadis di jalanan, kedua setelah bus kota ukuran sedang, si kaleng berkarat yang dipaksa jalan.
Saya juga menemukan hal yang “mirip”. Biasanya setelah berhenti (karena misalnya lampu merah), supir taksi akan mengegas dalam-dalam untuk memulai perjalanan . Padahal perasaan mobilnya nggak tua, jadi gak mesti takut resiko mogok di tengah jalan.