Dalam pengamatan saya, secara garis besar ada 2 jenis PNS. Yang pertama, jenis yang melekat dalam imej orang-orang umum ketika mendengar kata PNS : pemalas, korup, tidak efisien, birokrasi yang lama dan bertele-tele. Namun, publik mungkin tidak terlalu menyadari bahwa ada juga PNS yang bekerja baik, mereka yang memegang teguh integritas dan bekerja hingga 12 jam sehari bahkan lebih, yang sudah ada di luar jam kerja mereka tanpa mendapat uang lembur.
Kita sudah terlalu lama mencibir keberadaan PNS, sampai-sampai para PNS sendiri kehilangan kebanggaan mereka akan pekerjaan mereka, karena tekanan dan hinaan publik terhadap pelayan mereka sendiri. Kritik bertubi-tubi khas masyarakat Indonesia yang nyinyir karena setiap hari disuguhi berita tak menyenangkan seputar korupsi dan berbagai kerusakan di tubuh pemerintah.
Faktanya, sebuah negara tak mampu dijalankan tanpa pegawai pemerintah. Di mana-mana, di setiap negara di seluruh dunia, mereka pasti memiliki jabatan yang namanya public servant, atau apalah namanya, yang dipersamakan dengan pegawai negeri sipil di Indonesia, yang bekerja tidak untuk mencari laba, tetapi mencari hal-hal yang lebih daripada itu, yakni pengabdian. Menjadi pegawai pemerintah bukan tanpa tantangan. Banyak sekali hambatan untuk jadi orang yang lebih maju, dan Pak Romi Satrio Wahono telah mampu mendeskripsikan betapa sulitnya jadi PNS. Namun demikian, bukankah negara layak mendapatkan pegawai-pegawai berkualitas terbaik dari negeri ini?
Apabila Anda merupakan PNS golongan kedua, yakni mereka yang bekerja dengan baik, namun Anda merasa tidak cocok dengan sistem yang ada, Anda memang memiliki pilihan untuk tetap bertahan atau memutuskan keluar. Namun, pertimbangkanlah hal ini. Seketika Anda keluar, Anda akan melimpahkan beban pekerjaan Anda yang sebenarnya berat, kepada rekan-rekan kerja Anda yang mungkin memiliki beban kerja yang sama beratnya dengan Anda (atau dengan tidak Anda sadari, mereka memiliki beban kerja yang lebih berat daripada Anda).
Memang jumlah PNS itu banyak, tetapi mungkin jumlah PNS yang sadar pekerjaan seperti Anda hanya segelintir dari yang banyak itu.
Aku sendiri tidak memungkiri bahwa aku punya keinginan resign, setahun setelah bekerja jadi pegawai negeri. Hanya saja, masih banyak yang harus dipertimbangkan, terutama alasan yang kukemukakan di atas. Ya, ini adalah cerita nyata, tentang bagaimana seorang pegawai yang sudah di-assign untuk membantu seksi kami, tidak lama kemudian memutuskan untuk resign, padahal beban pekerjaan sudah dibagi berdasarkan manpower, dan dia sudah terhitung di dalamnya! Faktanya, orang-orang di seksi kami harus menanggung tambahan pekerjaan si pegawai yang keluar.
Well then, aku tidak akan menyarankan Anda untuk tetap berada di lingkungan pemerintahan, bila panggilan hidup Anda memang tidak di situ. Anggap saja ini sebagai batu loncatan untuk menggapai cita-cita Anda. Namun aku cuma bisa menyarankan, jangan dulu keluar sebelum mendapat penggantinya, demi rekan-rekan kerja Anda, demi negara, dan demi masyarakat umum.
Terkadang, hidup tidak sekedar masalah materi, atau pencapaian pribadi.

Sepakat sekali dengan pemikiran anda. Saya pun termasuk salah satu PNS yang ingin keluar. Keinginan saya untuk keluar adalah karena lingkungan yang korup yang sudah membudaya, sedangkan saya ingin menjaga integritas.
Menurut saya, hidup ini bukan sekedar masalah materi, tetapi – berbeda dengan anda- hidup ini haruslah pencapaian pribadi. Salam
Saya jg PNS sudah 7 taon mengabdi ke negara. kadang-kadang rasa jenuh dan risih apa bila pengabdian kita disamakan dengan PNS yg ogah2an. begitu juga tunjangan di bedakan masing-masing instansi padahal golongan dan jabatan sama. Rasa ingin resign kadang ada terbesit cuma umur sudah 30 an. mo kerja apa lg klo bukan usaha