Steganografi

Steganografi merupakan sebuah metode penyembunyian pesan rahasia sedemikian rupa sehingga orang-orang awam tidak sadar bahwa dalam sebuah media terdapat pesan rahasia tersebut.
Konsep atau penggunaan steganografi sendiri sudah ada sejak zaman pertengahan, di mana orang-orang menyembunyikan pesan-pesan perang ke dalam sebuah tablet kulit kayu yang dilapisi ter atau wax.
Steganografi kemudian dikembangkan, seiring kemajuan teknologi, ke dalam media digital.

Steganografi sendiri merupakan bidang yang kupelajari secara cukup mendalam dan berkesan, karena steganografi adalah bahan skripsi S1 yang kubuat 4 tahun lalu. Setelah lama tidak mendengarnya, aku kembali bertemu dengan istilah steganografi dalam usahaku mempelajari digital forensic. Hanya saja aku sedikit heran karena beberapa software digital forensic dan beberapa movie clip yang dibuat perusahaan-perusahaan besar menggambarkan seolah-olah mereka dapat mengambil data yang disimpan menggunakan metode steganografi. Hal ini cukup bertentangan dengan apa yang kudalami berbulan-bulan, ketika menyusun skripsi.

Steganografi, jika diterapkan dengan rapi, tidak dapat dideteksi datanya. Steganografi sangat berbeda dengan enkripsi. Dalam kasus enkripsi, kita masih dapat mengetahui file-file mana yang di-enkripsi, sehingga dengan metode-metode seperti dictionary attack atau brute force attack, kita bisa men-dekripsi file tersebut. Namun berbeda halnya dengan steganografi, kita tidak akan dapat membedakan file mana yang telah disusupi informasi rahasia menggunakan metode steganografi, kecuali kita memiliki file originalnya sehingga dapat dilakukan pembandingan.

Steganografi dapat dilakukan terhadap file multimedia seperti image bitmap, jpeg, mp3, bahkan file film. Orang biasanya tidak curiga terhadap file-file ini, karena file-file ini merupakan file yang standar, dan wajar terdapat dalam media digital. Itulah yang dimanfaatkan oleh sistem steganografi. Bagaimana kita bisa mengambil data rahasia apabila kita tidak tahu di mana data tersebut disimpan?
Pada umumnya, steganografi memanfaatkan LSB (least significant bit) yakni bit terakhir dalam data digital, di mana bit tersebut dianggap paling tidak signifikan, dalam artian file tersebut secara keseluruhan masih terlihat sama (mirip) apabila LSB berubah.

Baiklah, metode-metode pendeteksian steganografi (biasa disebut steganalysis) memang terus berkembang. Kini orang telah mulai bisa mendeteksi apakah sebuah file image telah dilakukan manipulasi steganografi berbasis LSB (least significant bit) atau tidak, menggunakan metode statistik tertentu, termasuk beberapa software seperti Stegdetect dan beberapa software lain. Namun metode steganografi juga berkembang. Metode lain yang lebih canggih daripada metode berbasis LSB telah dikembangkan, salah satunya metode F5 oleh Andreas Westfeld yang dikembangkan dengan metode DCT (discrete cosine transform).
Walaupun steganalysis terhadap metode-metode steganografi terus berkembang, namun kebanyakan steganalysis tidak dapat me-recover data rahasia yang ada di dalamnya, melainkan hanya memberikan pertimbangan apakah sebuah file dicurigai mengandung data rahasia atau tidak.

steganografi

2 Comments

  1. Gita said:

    mas.. saya mau tanya alasan orang melakukan steganografi pada citra digital bmp kenapa ya? tolong dijelaskan dong..Thanks

    30 October 2011
    Reply
  2. Gita said:

    oooh begitu.. mau nanya sekali lagi dong mas.
    klo format file PNG bisa ga kita menggunakan dengan metode LSB?
    apakah metode LSB dengan CLSB sama?
    Thanks in advance 😉

    30 October 2011
    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.