Pernahkah Anda merasakan bahwa hidup begitu kompleks setiap harinya? Segala yang dilakukan terkadang sulit dipahami, ketika kita melihat dari sudut pandang netral yang belum terikat oleh adat dan kebiasaan itu. Demi melihat seperti apa sudut pandang itu, mari kita saksikan sosok PK dalam film yang berjudul sama, PK.

Sebagai gambaran sosok manusia alien yang baru pertama kali datang ke bumi, PK (Aamir Khan) tak memiliki informasi apapun tentang bumi, manusia, dan interaksinya. Bahkan ia tak memiliki nama, sebab PK (Peekay) adalah pemberian orang. Barulah pada pertemuan pertama dengan seorang pencuri yang mengambil remote controlnya, di situ ia mulai berkenalan dengan manusia. Perjalanan hidupnya tentang pandangan-pandangannya akan apapun yang terjadi di sekitarnya, dapat kita lihat.
Kita diajak untuk melihat sesosok lain, kali ini seorang gadis muda bernama Jaggu (Anushka Sharma) di Belgia, tempatnya menuntut ilmu jurnalistik. Kemudian pada satu momen, dia bertemu dengan Sarfaraz Yousuf (Sushant Singh Rajput) yang seorang Pakistan (dan Muslim). Singkatnya, kisah cinta mereka ditolak oleh keluarga Jaggu walaupun mereka berdua memutuskan menikah, namun atas ramalan dari guru spiritual Tapasvi Maharaj, mereka batal menikah. Maka kembalilah Jaggu ke Delhi dan bertemu dengan PK di suatu stasiun kereta, sedang membagikan selebaran. Dicari : TUHAN.
Berbulan-bulan PK berusaha mencari remote controlnya yang dicuri orang, namun setiap kali ia bertanya pada orang, mereka menjawab : Tuhan akan menolongmu. Maka semenjak saat itu ia mencari Tuhan. Melalui cara apapun. Melalui ritual dan agama apapun ia jalani demi mencari Tuhan dan meminta Tuhan untuk mengembalikan remote control yang hilang. Jaggu yang seorang reporter tertarik dengan kisah dan karakternya, kemudian membawanya ke stasiun televisi untuk bertemu dengan produsernya. Maka sejak saat itu, PK memiliki acaranya sendiri, mempertanyakan tentang eksistensi ritual keagamaan yang dilakukan orang-orang dari seluruh kepercayaan untuk menemukan Tuhan.
Melalui kisah ini, kita diajak kembali untuk mengingat inti dari manusia bukanlah tentang agama apa yang kita anut, tentang kepercayaan yang kita pegang teguh, melainkan humanisme yang mestinya menjadi fokus dari tindakan kita sehari-hari.
Be First to Comment