Terkadang, pekerjaan bukan sekedar mencari nafkah.
Pekerjaan merepresentasikan harga diri.
Pekerjaan menunjukkan kualitas seseorang di hadapan orang lain.
Siang ini saya tercengang melihat sahabat dekat saya memegang sebatang sigaret di tangan kanan dan ponsel pintar di tangan kiri, duduk di pantry tempat kami biasa menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan rutinitas pekerjaan. Bukan apa yang ada di tangan kiri yang mengagetkan saya, sebab beberapa tahun mengenalnya, tak pernah sekalipun saya melihatnya merokok.

Memang, sahabat saya ini sepertinya sedang mengalami masa-masa sulit. Tempo hari ia bercerita bahwa ia sudah tidak lagi dipercaya atasannya mengerjakan pekerjaan yang biasa ia kerjakan. Pasalnya, atasannya itu telah menganggapnya sebagai pembangkang yang tidak mengerjakan apa yang diperintahkan. Demikian, seorang pegawai yang saya tahu benar punya reputasi bagus selama bertahun-tahun memberikan pelayanan, kini terduduk sepi di jam kerja, sibuk memainkan game, yang saya tahu benar, sudah bosan ia memainkannya.
Barangkali ada yang berpikir, betapa nikmatnya mendapat gaji tanpa kerja alias magabut alias makan gaji buta. Tetapi jika Anda pernah melihat orang yang nonjob, betapa merananya orang itu.
Saya setuju pula bahwa pekerjaan bukan lagi sesederhana mencari cukup uang untuk keluarga. Ketika 8 jam lebih dihabiskan untuk bekerja, mestinya kegiatan bekerja ini menjadi representasi seseorang : seberguna apakah ia dalam lingkungan tempat ia bekerja.
Kebetulan seorang pembicara dalam kebaktian minggu lalu memiliki kisah serupa. Seorang kepala cabang sebuah bank di Jawa Timur, tiba-tiba dinonjobkan karena seseorang di kantornya menggelapkan uang nasabah. Orang ini tidak bersalah, namun harus tetap menanggung risiko diturunkan jabatannya bahkan “dihukum” tidak melakukan apapun.
Ia menambahkan, hari demi hari ia bak duduk di kursi yang ditaburi bara api. Sungguh tidak nyaman keadaannya, dan hal itu berlanjut hingga 2 tahun sampai sebuah bank lain menawarinya jabatan tinggi.
Sebagaimana kedua tokoh di atas, saya juga pernah mengalami hal yang sama. Waktu-waktu itu saya habiskan tanpa hasil. Hari demi hari datang ke kantor hanya untuk menanggung malu ketika orang bertanya : sedang sibuk apa?
Saya bersyukur sebab ada jalan bagi setiap masalah ketika kita bersandar pada Tuhan.
Saya pun berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja bagi sahabat saya itu, dan pekerjaan yang lebih baik semoga akan ditemuinya di masa yang akan datang.
Be First to Comment