Setiap manusia tentunya memiliki naluri dasar untuk mempertahankan hidup, sebagaimana makhluk hidup lainnya. Demikian tidak berbeda dengan manusia-manusia yang tinggal di metropolitan, di mana segala hal sederhana berubah menjadi rumit, dan segala yang rumit menjadi tidak terpikirkan.
Manusia-manusia saling berlomba mengais rejeki, semakin banyak semakin menang, dan yang kalah menyingkir ke pinggiran, dan yang dari pinggiran menyela ke medan pertempuran. Laiknya perang, hari demi hari yang dihabiskan di Jakarta.
Hidup di Jakarta makin susah. Yang miskin dibatasi, yang kaya merajalela. Jika saya punya harta tentu saya tidak pikir panjang untuk memelihara roda empat, namun bagaimana saya bisa memiliki roda empat kalau tempat parkir mobil di rumah pun hampir tidak ada. Demikian roda dua menjadi pilihan bagi saya dan mereka yang punya beban ekonomi yang kurang lebih sama. Namun apa daya, hari demi hari, macet semakin tak terperi. Mobil segala merek dan segala ukuran memakan badan jalan hingga sepeda motor semakin terpinggirkan. Apalagi peraturan yang menihilkan sepeda motor melintasi jalan-jalan tertentu membuat kami ini semakin sulit mengais rejeki di ibu kota.
Tidak ada pilihan lain bagi saya yang masih mampu membaca aturan dan sebisa mungkin tidak melanggarnya. Maka ketika saya harus pergi ke suatu tempat yang mau tidak mau melintasi jalan-jalan verboden ini, kopaja menjadi pilihan yang realistis. Bukannya saya tidak waspada, sebab hari itu bus sangat penuh. Berdiri dengan nyaman pun sukar karena begitu banyak orang berdesak-desakan dalam ruang sesempit itu, dan saya baru sadar ada seseorang yang mempermak tas saya tanpa disuruh.

Betapa dalamnya sobekan yang dibuat, dan betapa beruntungnya saya karena tidak terluka. Sebab saya tahu pasti, tas saya itu tahan banting, dan sobekannya hampir menembus ruang utama tas, bisa dipastikan alat yang dipakai tajam luar biasa. Dan orang itu pasti punya nyali yang luar biasa besar.
Be First to Comment