Murah Meriah Nasi Megono

Senin, 26 Januari 2009
Aku memulai kembali perjuanganku. Perjuangan untuk merebut tempatku di dunia. Perjuangan demi orang-orang yang menggantungkan harapannya padaku.
Pukul 13.30 aku berangkat dari rumah setelah menyantap makan siang lezat buatan ibuku. Aku harus membawa 2 tas punggung yang berisi perlengkapan hidup merantau. Aku diizinkan membawa Shogun 125 demi efisiensi waktu dan biaya. Perjalanan kali ini diwarnai oleh mendung tebal yang menggelayut di langit sejak siang. Semoga tidak kehujanan, pikirku. Rute tak lagi menjadi problem karena aku telah mensurvey trek ini hari Jumat lalu. Trip Semarang – Pekalongan pun kujalani….

Seperti yang kuharapkan, hujan tak turun sampai aku tiba di kos. Setelah membayar uang kos, aku langsung berganti baju dan merebahkan diriku yang cukup lelah akibat barang bawaan yang lumayan berat. Aku pun sempat berkenalan dengan mas Hepi, penghuni kos yang bekerja sebagai satpam di Bank Permata.
Di kos ini ada fasilitas TV di teras depan. Lumayan untuk membunuh sepi.

Saat dinner time tiba, aku tak menunda diri untuk segera mencari warung makan. Aku melihat warung bakso, soto, bubur ayam, dan mi ayam sebelum aku sampai di sebuah warung lesehan sederhana. Makanan yang ditawarkan pun juga sederhana.

“Mau nasi megono?” tanya sang ibu penjaga warung
“Bolehlah” jawabku singkat

Aku belum pernah makan menu ini sebelumnya. Terbuat dari campuran parutan kelapa dan tempe plus bumbu-bumbu, membuatnya berasa unik. Belum ada rasa yang mirip dengan masakan ini, tapi aku akan menggambarkannya mirip sambal trancam.
Dengan harga 5 ribu rupiah aku bisa merasakan masakan khas daerah.
Lumayan, murah meriah.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.