Secara tidak mendetail aku mengamati beberapa orang yang kukenal sebelum dan sesudah tinggal di Jakarta. Dan dari pengamatan dangkal ini aku menyimpulkan bahwa mereka berubah. Seberapa banyak mereka berubah, tergantung pada diri mereka sendiri. Dan bagi orang daerah sepertiku, perubahan itu terasa sedikit berbeda dengan kultur lingkunganku tumbuh.
Aku tak ingin merinci perubahan-perubahan yang berhasil kuamati, tapi evidens yang kutemukan sepertinya memberi dukungan pada teori evolusi. Manusia berubah. Manusia berevolusi sesuai dengan lingkungannya. Contoh nyatanya diriku sendiri yang sangat mudah tertular logat orang lain bila aku bergaul erat dengannya. Cukup 2 minggu bagiku untuk meniru intonasi bicara orang Cilacap, juga ketika aku berteman dengan banyak orang Batak, orang Timor, maupun orang Papua. Memang, perubahan logatku bersifat temporer saat aku kembali ke daerah asalku, namun bagaimana jika aku tak pernah kembali ke tempat asal? Bukankah aku akan memiliki gaya bicara yang sama dengan penduduk lokal? Bukankah itu salah satu inti dari teori evolusi?
Tak mampu disangkal bahwa manusia berevolusi, dan hal ini tak ada sangkut pautnya dengan teori penciptaan. Dengan pengetahuan yang dangkal aku tak berani berpihak ke salah satu sisi….
Liat aja paling besok km pulang logatnya uda “lu gua, lu gua” :))
wah siap2 denger logat jakarte punye nie klo balik k smg he2
itu die 😀