Uang selalu jadi topik panas di milis pegawai baru angkatanku. Puncaknya sore kemarin, ketika ketua senat mengumumkan bahwa terjadi penundaan (lagi) karena berkas-berkas masih belum selesai ditandatangani oleh pejabat yang bersangkutan. Gaji kami bakal molor lagi. Akhirnya bermunculan suara-suara ketidakpuasan dalam milis kami.
Siapa sih yang engga butuh uang? Semuanya perlu uang, tanpa kecuali. Namun apa yang bisa dilakukan, telah dilakukan, dan hal-hal yang diluar kewenangan, itulah yang tak bisa dihindari ketika terjadi hambatan di sana.
Mencoba kembali menunduk, memandang pada orang-orang yang tak punya harapan pada rapelan.
Yang mereka tahu hanyalah menjalani hidup apa adanya. Junaidi dan Darma, misalnya, mengaku senang mengamen untuk membantu orang tuanya. “Saya mah senang bantu-bantu orang tua”, ujar Junaidi.
Adakah mereka juga punya cita-cita sebagai sebuah mimpi yang ingin digapai? Tentu saja punya, meski itu sangat sederhana. Junaidi, misalnya, ingin menjadi pedagang buah. “Pedagang buah, warung, ya begitu,” katanya. Maksudnya, ia ingin menjadi pedagang buah yang punya lapak.
Kembali menginsafi diri, bahwa kami ini orang yang sangat beruntung. Beruntung bahwa kami mampu kuliah, beruntung bahwa kuliah kami telah selesai dengan baik, lebih beruntung lagi bahwa kami telah dijanjikan akan punya nafkah yang cukup, bahkan lebih dari cukup. Dan fakta membuktikan bahwa janji itu selalu ditepati, walau mungkin agak terlambat dari jadwal.
Jadi, apa lagi yang kurang untuk mengucap syukur?
Kunjungi lapak saia di http://rizaherbal.wordpress.com/