First leg babak semifinal Piala Champions Eropa telah selesai dimainkan. Keempat tim raksasa Eropa yang lolos ke semifinal adalah Barcelona, Chelsea, Manchester United, dan Arsenal. Pada babak semifinal tahun ini, Barcelona berhadapan dengan Chelsea sedangkan Manchester United dengan Arsenal, dan dalam pertandingan first leg, Barcelona vs Chelsea digelar di Stadion Camp Nou sedangkan Man Utd vs Arsenal di Theatre of Dreams atau lebih dikenal dengan nama Stadion Old Traffold.
Barcelona 0 – 0 Chelsea
Aku mencoba menganalisis permainan kedua tim. Sebenarnya baru kali ini aku melihat teknik permainan Barcelona secara gamblang. Sangat terlihat bahwa Barcelona mengandalkan kecepatan ketiga penyerangnya : Thierry Henry di kiri, Samuel Eto’o di tengah, dan Leo Messi di kanan. Sistem penyerangannya, para penyerang memposisikan diri agak jauh dari kotak penalti yang secara otomatis juga menarik para pemain belakang lawan untuk lebih maju meninggalkan gawang. Nah, dengan posisi ini gelandang-gelandang Barca secara cerdas melancarkan trough pass yang ciamik. Trough pass yang terlihat dilatih intensif karena tingkat presisinya sangat tinggi. Kesulitan trough pass adalah mengukur posisi dan kecepatan bola agar terjangkau oleh para penyerang. Dan inilah kupikir yang menjadi alasan mengapa Barca menerapkan formasi 3 striker : agar dapat memanfaatkan side forward, juga untuk memberikan 3 opsi bagi trough-passer. Striker Barca akan berlari sekencang-kencangnya mengambil bola trough menuju kotak penalti dan mengeksekusinya, entah shoot atau cross. Bila gagal? Xavi dan Iniesta sudah siap untuk bola rebound dari second line.
Kalau sistem permainan Barca sebagus itu, kenapa tak bisa membobol gawang Chelsea? Petr Cech seorang kah penghalangnya? Ya, sang kiper merupakan ganjalan besar bagi shooter Barca. Tak dapat dipungkiri pula bahwa para defender Chelsea tak mampu mengimbangi kecepatan para striker lawan. Branislav Ivanovic gagal menghadang Henry, sama halnya dengan Jose Bosingwa yang dipindah ke sisi kiri, tak mampu menghambat Messi. Untung saja Chelsea punya kiper sekelas Cech dan pelatih sekaliber Guus Hiddink yang dengan jitu menerapkan strategi ultra defensif. Ia menarik gelandang-gelandang pekerja keras Chelsea sedikit di depan kotak terlarang demi menutup ruang gerak para gelandang elegan Barca.
Dengan segala kelebihan Barca, kenapa aku masih menjagokan Chelsea untuk terbang ke Roma?
Karena faktor Guus Hiddink. Pelatih satu ini tahu apa yang harus ia lakukan di segala situasi. Masih ingat bagaimana Rusia memaksa Belanda pulang pada gelaran Euro 2008 lalu? Dalang di balik pasukan Beruang Merah adalah Mister Hiddink! Rusia tak punya materi pemain semewah Belanda, toh kemenangan masih dapat diraih. Nah tentu saja Juragan Hiddink kali ini akan sedikit lebih mudah meracik tim dengan kekuatan sebesar Chelsea. Barcelona? Tampaknya Messi akan melihat final Champions kali ini dari layar kaca atau tribun VVIP, hehehe.
Man Utd 1 – 0 Arsenal
Tanpa ragu lagi, Man Utd pasti ke Roma. MU menang segalanya atas Arsenal : materi pemain, mental, pengalaman, dan ambisi.
Cristiano Ronaldo akan melumat Fabregas lagi di leg kedua nanti. Walaupun Arsenal memainkan sepakbola indah dengan umpan-umpan pendek nan cepat dari kaki ke kaki, teknik individu barangkali menjadi jurang pemisah nasib di antara kedua tim.
Hmm… dengan uraian ini maka aku menyebut Man Utd akan re-match melawan Chelsea, bak final ulangan tahun lalu. Siapa yang akan juara? Kita tunggu saja 🙂
[…] skor pertandingan Madrid – Barca, 6-2. OMG. Masih menyambung dengan tulisanku sebelumnya di sini yang mengulas salah satunya tentang strategi ultra defensif Chelsea, ternyata itulah strategi […]