Jangan Gaji Diriku

Di sinilah aku sekarang. Di Kantor Pajak Pekalongan. Nama resminya sih Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pekalongan, atau sering disingkat KPP Pratama Pekalongan. Walau sudah disingkat, bagiku nama itu masih saja terasa terlalu panjang.

Aku sedang duduk di depan LCD mewah dalam ruangan dingin ber-AC yang terang benderang. Nyaman. Sepi. Orang-orang sedang keluar makan siang. Aku sedang teringat pada berita tadi pagi yang kutonton di TV, tahun ini bakal ada PHK besar-besaran. Dikatakan, ratusan ribu orang sudah di-PHK, dan akan menyusul beberapa puluh juta orang lagi untuk di-PHK. Bayangkan….

Bagi korban PHK, mendapat pekerjaan saat ini adalah sebuah kemewahan yang teramat sangat. Namun bagiku yang tak pernah mampu menyadarinya, hampir selalu mengeluh ini dan itu. Ngedumel kalau kantor memberi perintah tanpa ancang-ancang. Misuh kalau kantor nyuruh aku diklat di Jakarta, bukan di Jogja. Mencela dengan kamar mandi pusdiklat yang tak ada airnya, walau makanan telah disediakan dengan kualitas dan kuantitas yang cukup untuk hidup. Oh my….

Di sinilah aku sekarang. Merenung sambil sesekali menekan tuts keyboard dari komputer mahal merek Lenovo. Aku harus mulai belajar bersyukur pada apa yang telah kuperoleh. Tak cukup sampai di situ, pekerjaan yang kuterima harus pula kulakukan dengan sepenuh hati. Bila tidak, percuma aku masuk ke sini.
Tapi terkadang tanggungjawabku serasa begitu berat. Aku sedang mendapat jatah magang di seksi waskon, pengawasan dan konsultasi, dan berhubung kursiku ada di posisi paling “strategis” yaitu di dekat pesawat telepon, aku jadi sering menerima pertanyaan dari wajib pajak tentang pajak. Duh! Segala ilmu yang kuterima saat diklat serasa menguap semua.
Tak cukup sampai di situ, posisiku juga paling dekat dengan pintu masuk, jadi setiap ada WP masuk, hampir dipastikan mereka bertanya padaku, dari pertanyaan yang mana AR-nya sampai pertanyaan tentang pajak. Duh lagi! Serasa nggak guna.

Uang tunggu yang tak kunjung turun membuatku berpikir bahwa aku memang belum layak digaji. Benar-benar belum layak….

Aku masih harus banyak belajar dan berjuang.

2 Comments

  1. Uang Makan Cair | Dim's Blog said:

    […] – 05:12 Aku heran, sejak uang makan cair, aku gamang…. Barangkali aku merasa benar-benar tak layak digaji, atau barangkali pula hatiku terlalu senang dan sibuk memikirkan daftar barang yang akan […]

    2 May 2009
    Reply
  2. […] heran, sejak uang makan cair, aku gamang…. Barangkali aku merasa benar-benar tak layak digaji, atau barangkali pula hatiku terlalu senang dan sibuk memikirkan daftar barang yang akan […]

    17 July 2014
    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.