Kontribusi

Ketika perdebatan tentang kontribusi pada negeri muncul, saya pun merenung.

Kebanyakan orang berpendapat bahwa menjadi pegawai negeri adalah salah satu cara paling nyata untuk berkontribusi pada negeri, sebagai salah satu cara untuk membayar kembali jasa negara yang menyekolahkan para penerima beasiswa yang “beruntung”. Maka selalu saja ada orang yang terus berdebat terkait para penerima beasiswa yang tak kembali ke tanah air (entah menjadi apa).

Kembali ke tanah air tidak selalu menunjukkan kontribusi pada negeri.

Itu menurut saya. Dan menjadi pegawai negeri selepas pulang kuliah adalah salah satu cara paling cepat untuk menyia-nyiakan ilmu itu. Kenapa? Karena kebanyakan posisi di pegawai negeri tidak memerlukan pemikiran kritis, terobosan-terobosan baru, analisis, kajian, dan penelitian untuk penerapan kebijakan yang lebih efisien dan efektif. Posisi-posisi yang tersedia kebanyakan di level pelaksana, yang notabene tidak perlu “otak banyak-banyak”, hanya perlu otot dan kemampuan untuk tidak bosan terhadap pekerjaan administratif yang itu-itu saja sepanjang tahun. Kriteria pelaksana terbaik adalah mereka-mereka yang melaksanakan pekerjaan administratif ini dengan setepat mungkin (tidak perlu secepat mungkin, asal tidak lewat jangka waktu saja) dengan sesedikit mungkin problema yang muncul. Menjadi pelaksana dalam struktur pegawai negeri bisa berarti menyingkirkan seluruh pemikiran kritis yang digantikan dengan “yes boss attitude”.

Demikian menurut pengalaman saya di beberapa tempat. Tidak semua memang. Tapi kebanyakan memang begitu.

Mereka-mereka yang merasa “salah jurusan” juga tidak dapat berbuat banyak. Apalagi soal penempatan bukan perkara mudah untuk dilakukan “penyesuaian” sesuai minat (dan bakat) masing-masing, terlebih buat para pegawai yang tidak punya koneksi para petinggi yang punya pengaruh. Pilihannya hanya 2: bertahan atau pergi.

Saya memilih pergi.

Saya merasa bertanggungjawab setelah menghabiskan ratusan juta uang negara dalam bentuk tuition fee dan uang saku selama 18 bulan, 2 tahun yang lalu. Sementara apa yang saya hasilkan (dan mungkin akan saya hasilkan) tidak memuaskan saya (dan mungkin tidak memuaskan siapapun yang menggunakan jasa saya). Maka saya memutuskan untuk berhenti.

Beberapa kritik saya terhadap institusi tempat saya bekerja mendapatkan banyak penolakan. Padahal kritik yang tertuang dalam tulisan didasarkan atas analisis teknis dan legal dengan logika yang sedapat mungkin saya tulis dengan runut dan hati-hati, serta telah mendapatkan konfirmasi dari sebanyak mungkin pihak yang terlibat di dalamnya. Hanya saja, hasilnya tidak seperti yang saya inginkan.

Saya tidak bisa bilang bahwa saya tidak kecewa. Saya kecewa berat.

Namun ini adalah konsekuensi dari pilihan saya 8 tahun yang lalu, yang terus menerus terjadi hingga saat ini. Semoga pilihan saya membuat saya dapat berkontribusi lebih besar bagi negeri, meski itu baru akan terjadi nanti.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.