Hari Jumat kemarin kebetulan muncul keisenganku untuk sejenak mengamati lalulintas di depan kantor, tentu saja sembari mengayunkan langkah menuju kos.
Iseng, karena aku mendapat informasi bahwa kemacetan di hari Jumat sore bisa sampai jam 11 malam. Luar biasa, dan inilah hasil jepretanku dari kamera VGA berresolusi rendah.
Selang beberapa saat, hujan pun turun. Kebetulan ada halte yang beratap. Berteduh sambil terus mengamati jalan raya.

Gimana rasanya kena macet terus kehujanan?
Air mulai menggenangi jalanan yang katanya salah satu jalan utama di Jakarta.

Tak perlu waktu lama untuk mengubah jalan menjadi selokan, cukup 30 menit saja.

Kok bisa ya, jalanan sebesar itu, di kota semodern ini, nggak ada lubang-lubang untuk mengalirkan air hujan ke selokan? Bahwa konsep-konsep air mengalir adalah pelajaran sekolah dasar, namun sepertinya para arsitek pembangunan jalan telah lupa.
Kejadian ini membuatku menyingkirkan ide untuk memboyong sepeda motor dari kampung. Kemarin ada teman yang melontarkan gagasan untuk beralih ke sepeda onthel. Hmmm…. menarik 😀

sepeda onthel gampang diangkat ke trotoar
Hihihi………
gampang diangkat lewat jembatan penyeberangan juga 😀
walau ada juga orang yang nekat naikin motor ke jembatan penyeberangan… ngeri doang 😀