Gonjang-ganjing seputar politik belakangan ini ternyata mampu menyita sebagian sumber dayaku. Bagaimana tidak, topik cicak – buaya dan tetek bengeknya hampir tiap jam dibahas oleh orang-orang di sekitarku, seolah tak ada habisnya.
Aku secara pribadi sih memilih sisi netral. Terkadang yang terlihat salah belum tentu salah, dan yang terlihat benar belum tentu benar. Dan takaran kebenaran pun terkadang tak mampu didefinisikan secara pasti.
Mirisnya, di tengah keadaan yang abu-abu ini, media dan orang-orang yang berlabel pengamat politik memanfaatkan keadaan untuk menyerang pihak lain. Bahkan segala hal yang sebenarnya tidak berhubungan, di-othak-athik-gathuk supaya pas dipakai jadi bahan cercaan. Media dan politikus sedang gemar mencerca, bercerita, membentuk opini masyarakat bahwa si itu salah, si itu benar, si dia plinplan, si anu harus mundur, de el el. Dengan begitu, permasalahan pembuktian kebenaran pun semakin kabur. Media berkuasa.
Kalau ada penguasa tentunya ada yang dikuasai. Siapa? Kita! Masyarakat pada umumnya, yang secara umum memiliki kepercayaan absolut bahwa berita di koran dan televisi itu benar adanya. Oh, kitalah target pasar mereka. Kitalah yang rela berjam-jam menunggu berita sampah mereka, demi menambah tingkat kekhawatiran kita dengan informasi negatif (dan sepertinya selalu negatif). Belum lagi pemegang pakar politik yang menikmati keadaan ini karena kemampuan mencelanya banyak dibeli koran dan acara televisi.
Aku jadi teringat potongan lagu Switchfoot yang berjudul Lonely Nation
we Are The Target Market, We Set The Corporate Target
we Are Slaves Of What We Want
we’re Just Not Amused And, We’re Just Used To Bad News
we Are Slaves Of What We Want
Sah-sah saja kita menjadi penikmat berita, tetapi menjatuhkan vonis bersalah pada tersangka sebelum peradilan digelar bukanlah sesuatu yang bijak.
====
Be First to Comment