Batik

Sejak mengenal kota Pekalongan, aku jadi rada sensi dengan batik. Kenapa?

Dulu aku sempat bertugas di Pekalongan selama 7 bulan, dan beberapa kali sempat jadi petugas lapangan door-to-door nyari data PBB. Kebetulan jalan itu cukup panjang dan memiliki sebuah jembatan untuk melintasi sungai. Nah, betapa kagetnya aku ketika menyadari bahwa setiap hari air sungai itu berubah warna. Sungai ini nggak berwarna seperti warna sungai kebanyakan yang biasanya coklat lumpur. Sungai ini kadang-kadang warnanya hijau, merah, bahkan kuning cerah!

Othak athik gathuk pun dilakukan. Nggak ada yang bisa bikin sungai berwarna-warni selain oleh pewarna pakaian, berhubung Pekalongan terkenal sebagai sentra batik Jawa Tengah. Ditambah lagi petualanganku menyusuri gang-gang kecil yang juga ditumbuhi usaha batik, selokannya tak ada yang berwarna normal. Wah.
Sebagai tambahan, aku pernah masuk ke toko yang khusus menjual pewarna batik, dan kulihat cairan pewarna ini sama sekali tidak tampak ramah lingkungan. Toko ini sama kotornya dengan bengkel kendaraan yang belepotan oli. Apa jadinya kalau pewarna ini dipakai dan limbahnya tidak ditangani dengan benar?

Sayang sekali bangsa kita seperti tidak peduli pada hal ini. Kita hanya tahu batik sebagai warisan budaya bernilai tinggi tanpa mengetahui dampak buruk pembuatan batik yang sembarangan. Kita selalu bangga mengenakan batik – bahkan akan ada himbauan PNS memakai batik setiap hari – , tetapi ironisnya kita tak tahu bagaimana batik ini dibuat!

Aku malu pakai batik yang limbahnya mencemari lingkungan!

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.