Aku benar-benar mensyukuri hujan tiap kali turun di Jakarta. Jakarta butuh hujan untuk membersihkan udara yang kotor karena polusi berlebihan, utamanya dari asap kendaraan dan pabrik-pabrik.
Malam minggu ini, tidak seperti biasanya, hujan turun cukup deras. Memang sedari siang awan tebal menggantung, sempat gerimis namun baru sekarang hujan turun. Biasanya, setiap ada awan pasti diusir oleh beberapa sinar laser yang ditembakkan entah dari mana, memecah awan untuk mencegah hujan. Dugaanku sih dari mal-mal yang banyak bertebaran di Jakarta.
Mal dan pusat-pusat perbelanjaan jelas punya kepentingan di atas cuaca. Kalau hujan turun tentu minat keluar rumah berkurang drastis, otomatis penjualan berkurang dan keuntungan pun berkurang juga. Untuk memastikan cuaca tidak hujan mereka mengoperasikan sistem pemecah awan untuk mencegah hujan.
Namun sore ini beda. Hujan tak mau mengalah pada orang-orang kapitalis. Sekali ini alam memaksakan diri melakukan siklusnya. Air hujan membawa kehidupan bagi makhluk hidup, tidak sepantasnya dicegah, apalagi hanya demi uang. Siklus alam yang terhambat hanya membawa dampak buruk bagi awan, dan, seperti ungkapan yang kubaca dari sebuah buku karya John Perkins,
Tidak ada pekerjaan di planet yang mati
Hujan, turunlah sesuka hatimu.
Be First to Comment