Do you know where I can find homeless people?
I want to give something to them.
Di sore yang cukup tenang tadi saya kira akan menyelesaikan pekerjaan saya di pasar tanpa ada sesuatu yang berarti, dan saya tidak berharap ada sesuatu sebab bos sudah menegur saya atas beberapa keteledoran yang saya buat tempo hari. Hanya saja tiba-tiba ada seorang wanita – barangkali belum lama di kota ini – berhenti dan menanyakan pertanyaan di atas.

Oke, kalau pertanyaan di atas ditanyakan kepada saya saat saya ada di negara saya, saya tidak akan kebingungan dibuatnya. Pasti akan ada setidaknya satu-dua jawaban yang saya sediakan buatnya. Tapi di kota ini… sungguh saya baru sadar kalau sangat jarang menemukan homeless people – alias gelandangan – yang hidup di kota ini. Setidaknya dulu saya berkeyakinan bahwa penyakit kota metropolitan adalah kemiskinan; mereka seperti dua bersaudara yang tak terpisahkan, bukan kembar namun saling bertolak belakang; laiknya The Beauty and The Beast(s).
Saya pun tak bisa berpikir panjang, sebab cuma satu wilayah yang di pernah saya lihat ada gelandangan jadi-jadian, ya di dekat pusat kota sana. Selain itu, tidak ada, null, nihil.
Pertanyaan yang dijawab wanita itu dan jawaban yang saya berikan menjadi anihilasi atas teorema yang saya anut bertahun-tahun. Ini seperti halnya menganalisis ulang sebuah H0 : kota metropolitan adalah sarang kemiskinan, dengan menyandingkannya dengan hipotesis baru H1 : bahwa mungkin saja sebuah kota metropolitan dengan minimum kemiskinan. Walau mungkin masih dengan tingkat kepercayaan yang tidak tinggi, H0 saya (barangkali) juga terpatahkan hari ini. Sungguh hari yang bersejarah!
[…] ini benar-benar minggu yang aneh. Setelah kemarin saya baru saja menulis tentang ketiadaan gelandangan di kota ini, tiba-tiba hari ini saya menemukan seorang gelandangan duduk bersimpuh di depan tangga stasiun! […]