In Bitcoin (Shall) We Trust (?)

Bitcoin menjadi fenomena luar biasa beberapa tahun ini. Sebuah terobosan baru di dunia kriptografi yang menawarkan bentuk lain dari uang digital yang diperlengkapi dengan fungsi-fungsi kriptografi sebagai sarana pengaman transaksi dikarenakan absennya otoritas sentral. Singkatnya, bitcoin adalah uang digital terdesentralisasi.

bitcoin
Bitcoin mendasarkan sistemnya pada teknik kriptografi dan jaringan peer-to-peer untuk mekanisme verifikasi, validasi, dan menjalankan keseluruhan sistem. Demikian sistem ini terbuka bagi siapa saja untuk bergabung dan menjadi bagian dari komunitas yang terus berkembang untuk menggunakan bitcoin sebagai alat tukar (uang, currency, payment system).

Sebuah pertanyaan besar yang perlu dijawab adalah : apakah Bitcoin punya kapasitas untuk menjadi uang masa depan? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentunya kita harus melihat Bitcoin dari berbagai sudut, namun demikian akan menjadi terlalu panjang untuk menuliskan semua (yang telah saya rangkum menjadi literature review assignment 2000 kata) ke dalam sebuah blog post. Namun mungkin menarik untuk menuliskannya ke dalam beberapa tulisan. Nah, maka dari itu, tulisan ini menjadi pembuka dari seri Bitcoin saya.

Mempelajari security berarti bersiap terhadap segala kemungkinan (buruk) yang terjadi. Hal yang sama harus saya lakukan ketika mempelajari aspek-aspek Bitcoin. Barangkali mudah untuk melihat potensi dari Bitcoin (jika semua komponen risiko dihilangkan), dan tidak akan sulit untuk memutuskan bergabung ke dalam sistem Bitcoin. Namun semuanya menjadi kompleks ketika parameter-parameter keamanan dimasukkan ke dalam bahan pertimbangan.

Mengingat bahwa saya tidak memiliki kepentingan apapun terhadap kesuksesan atau kegagalan sistem Bitcoin (sebagai sebuah mata uang baru atau sebagai alat investasi) karena tidak memiliki afiliasi terhadap Bitcoin secara langsung (exchange services, AltCoin, dll), maka saya merasa bebas untuk mengemukakan kritik maupun saran untuk Bitcoin.

Bitcoin sedari mula memang didesain untuk menjadi alat tukar, alias currency, alias mata uang, sebab seluruh fiturnya diciptakan untuk bertransaksi. Lantas jika kini orang berbondong-bondong membeli Bitcoin dengan harapan nilainya (nilai tukar terhadap mata uang tradisional, US Dolar misalnya) meningkat di masa depan, bagaimana Bitcoin bisa menjadi alat tukar, jika semua orang lebih ingin menyimpannya ketimbang menghabiskannya untuk barang/jasa yang diinginkan? Maka, menurut sebuah perdebatan seru yang saya baca antara pendukung inflasi dan pendukung deflasi, masing-masing dari mereka sanggup mengemukakan alasan yang kuat untuk berargumen, namun satu hal rasional yang membenarkan terjadinya inflasi adalah, bahwa lebih baik bagi setiap orang untuk terpacu membelanjakan uang yang dimilikinya sekarang (karena di masa depan nilai uangnya akan berkurang) ketimbang menyimpannya dan berharap nilainya bertambah di masa depan. Itulah titik penting Bitcoin di bidang ekonomi yang benar-benar harus dipertimbangkan sebelum Bitcoin dapat dipandang sebagai alternatif (kuat) uang modern. Ekonomi tidak akan berjalan tanpa adanya transaksi yang terjadi. Dan jika insentif (deflasi) diperoleh mereka yang menyimpan uangnya lebih lama, maka barangkali roda perekonomian tidak akan berjalan dengan lancar.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.