Sudah dua minggu ini aku jadi pengguna setia trotoar jalanan Jakarta. Selama dua minggu ini pula aku merasa bahwa trotoar di Jakarta ini tidak didesain untuk pejalan kaki. Sekedar hiasan, barangkali.
Bagaimana aku tidak berpendapat demikian kalau gambar di samping ini terjadi hampir di seluruh jalanan besar di Jakarta? Perhatikan bahwa jembatan penyeberangan memakan hampir seluruh lebar trotoar. Mengenaskan karena hanya menyisakan kurang lebih 30 sentimeter di pinggir jalan.
Apakah si perancang tidak merasakan ngerinya berjalan di trotoar model begini? Bagaimana tidak jeri kalau sewaktu-waktu bus kota bisa menyambar tubuh kita dari belakang demi menaikkan atau menurunkan penumpang, atau ketika jalanan macet sehingga hampir seluruh ruas jalan terpadati oleh kendaraan?
Wow, aku merasa terpinggirkan. Walau begitu, ruas trotoar yang kufoto ini masih lebih beruntung dibandingkan trotoar di tempat lain yang dapat dipastikan menjadi kubangan lumpur setiap kali hujan turun.
Nampaknya penguasa Jakarta tak pernah menjejakkan kakinya di trotoar yang dibangunnya sendiri. Sedihnya…
susahnya hidup di Jakarta
______________________________________________
Tidak menolak kunjungan Anda ke blog saia yang lain di http://rizaherbal.wordpress.com/
tantangan yang lebih besar 🙂
[…] misuh-misuh soal trotoar dan jembatan penyeberangan, kebetulan kemarin mata orang kampungku menemukan satu lagi hal yang […]
[…] misuh-misuh soal trotoar dan jembatan penyeberangan, kebetulan kemarin mata orang kampungku menemukan satu lagi hal yang […]