Ketika saya berpikir tentang uang, saya berusaha mengingat kembali seluruh bacaan yang saya konsumsi setahun yang lalu, ketika segala teori asal-muasal uang sedikit banyak memberikan persepsi yang berbeda terhadap uang dalam diri saya.
Uang bagi saya tidak lagi sekedar alat tukar menukar. Lebih jauh lagi, uang dapat dipakai untuk mengendalikan orang, mengendalikan bangsa, bahkan mengendalikan dunia. Lembaran-lembaran kertas yang sejatinya tak memiliki nilai berarti tanpa persepsi keberhargaan, akan kehilangan makna sesaat setelah orang kehilangan kepercayaan akan nilai yang telah disepakati terhadap lembaran kertas itu. Bahkan lebih jauh lagi, kini uang tidak lagi berwujud fisik, melainkan sekedar catatan bit-bit dalam komputer di bank yang diakses melalui gesekan kartu plastik di pasar.

Bank Sentral
Betapa saya tidak habis pikir dari mana bank sentral memiliki dana untuk menggelontorkan pinjaman pada bank-bank komersial, atau pada suatu saat memborong deposito maupun obligasi terbitan bank-bank itu. Yang saya pahami adalah bahwa bank sentral tidak memiliki tugas untuk mencari keuntungan, namun menjaga kestabilan nilai mata uang dan sistem ekonomi suatu negara. Oleh karena itu, bank sentral menciptakan uang dari udara kosong. Sebagaimana uang diciptakan dari udara kosong, demikian pula ia akan kembali menjadi udara kosong, kecuali bunganya.
Bank sentral tentu saja tidak akan membeli surat-surat berharga itu tanpa imbalan apapun. Maka bunga akan membebani ekonomi hari demi hari.
Hidup yang dikonversi menjadi uang
Setiap hari saya melihat (dan mengalami sendiri), orang-orang yang bangun pagi-pagi untuk memulai aktivitas pekerjaan dan kembali sore atau bahkan larut malam, menghabiskan hidup mereka demi lembaran-lembaran uang yang sebenarnya tidak ada harganya itu. Padahal waktu adalah hidup. Jika hidup seseorang dapat direpresentasikan ke dalam jumlah waktu yang dimiliki sepanjang hidupnya, maka kita dapat memahami bahwa waktu itulah yang akan dikonversikan ke dalam bentuk uang, sebab apapun yang dikerjakan semasa hidup akan memerlukan waktu (dan bahan-bahan lainnya mungkin). Demikian kita dapat mengatakan bahwa hidup telah dikonversi menjadi uang.
Padahal sebagaimana telah disampaikan di atas, bank sentral menciptakan uang dari udara kosong, dan menjadi hak mutlak bank sentral untuk mengendalikan peredaran uang. Bayangkan suatu saat bank sentral menaikkan suku bunga, maka berbondong-bondong setiap orang di wilayah berlakunya uang tersebut harus mengembalikan uang (yang diperoleh dengan mengkonversi hidup) ke bank sentral. Sungguh, di mata bank sentral, semua uang adalah sama : tak lagi berharga saat kembali ke rekening bank sentral. Suatu hal yang sama sekali tidak mencerminkan keadilan!
Uang bukan segalanya
Pepatah lama yang mengatakan bahwa banyak hal yang jauh lebih penting ketimbang uang ada benarnya. Sebab bagaimana mungkin seseorang menukar hidup yang hanya satu kali itu demi sesuatu yang jauh tidak berharga? Saya mengalami kekecewaan yang luar biasa ketika memahami konsep-konsep uang seperti ini. Betapa merananya orang-orang di muka bumi di bawah kendali si jahat uang.
Prinsip ekonomi berkeadilan
Prinsip-prinsip ekonomi seharusnya didasarkan pada semangat menopang kehidupan orang-orang secara bersama-sama, bukannya saling bersaing untuk banyak-banyakan mengumpulkan uang, yang pada akhirnya akan menunjukkan segregasi sosial dan kehidupan di antara sesama manusia. Sumber-sumber daya alam yang tersedia sejatinya akan cukup untuk dipakai menjalankan kehidupan yang tidak ngoyo dan tidak mengada-ada, namun apa daya, manusia telah menjadi serakah dan menginginkan lebih dan lebih.
Setiap orang harus memiliki posisinya dalam masyarakat, dengan demikian pengaturan ekonomi dapat menjadi terencana. Sistem produksi barang dan jasa jelas harus dikerjakan, sekali lagi dengan memandang bahwa setiap orang harus berkecukupan dalam mengisi kehidupannya yang seharusnya tidak melulu bekerja dan bekerja. Kehidupan terlalu singkat untuk dihabiskan mencari kekayaan yang pada hakikatnya kosong belaka.
Be First to Comment