Bullying sekarang menjadi topik yang banyak dibicarakan orang sejak beberapa kejadian di luar batas kemanusiaan yang banyak terjadi di IPDN Bandung yang sampai memakan banyak korban tewas akibat tindak kekerasan.
Aku pernah menjadi pelaku bullying. Waktu SMA aku masuk menjadi salah satu koordinator keamanan untuk acara perpeloncoan siswa baru. Bisa menjabat koordinator keamanan adalah suatu kebanggaan luar biasa bagiku, karena tidak semua orang bisa, dan untuk menjadi koordinator keamanan syaratnya sama sekali tidak mudah.
Tetapi tahukah Anda, aku tak bisa menghilangkan perasaan bersalahku hingga sekarang.
Seseorang yang menjadi koordinator keamanan, disingkat saja korkam, artinya punya wewenang untuk menjaga keamanan, termasuk meneriaki para peserta ospek, dan lebih lagi, menghukum mereka bila mau.
Aku yang sekarang sudah mampu berpikir kritis dan benci kekerasan (rindu kekenyalan :D), rasa-rasanya belum mampu memaafkan diriku sendiri karena meneriaki dan menghukum peserta ospek tanpa alasan.
Yang mengejutkan dari diriku adalah ketika itu tanpa alasan kuat aku ikut beramai-ramai mengepung seorang peserta yang sebenarnya punya keberanian lebih daripada rekan-rekannya, dan aku memukul perutnya sekali. Tidak kuat memang, tetapi sampai sekarang aku tak bisa melupakannya. Bukan karena takut melukai tubuhnya, tetapi aku takut melukai jiwanya. Pukulan itu mengoyak hatiku.
Belum lagi kata-kata yang kuucapkan selama menjadi korkam, sama sekali bukan kata-kata mutiara….
Dengan pengalamanku itu, aku heran bila ada orang yang merasa bangga bisa melakukan kekerasan dengan “bawahannya”. Ia sejatinya melukai dirinya sendiri. Percayalah, bila Anda akan melakukannya, ingat bahwa hidup Anda tak akan seindah dulu lagi.
hi.. medeni
Hidup anda tidak indah…?
Ataw dihantui rasa bersalah…?
Ayooo… terapi sama saya… hahahahahahaaaa…
Piye kabare?
Lama tak terdengar…