Tanggal 30 November 2009 adalah salah satu hari bersejarah bagiku.
Pada hari itu aku pertama kali mendapat tugas dinas luar, dan hari itu adalah pertama kali aku menginjakkan kaki di tanah Sumatra.

Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau dan Kepulauan Riau memiliki arsitektur bangunan yang megah dan berseni. Salah satunya yang sempat kufoto adalah sebuah bangunan di seberang kantor wilayah DJP.

Transit di Pekanbaru, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat ke kota Dumai. Sepanjang jalan aku melihat hamparan kebun kelapa sawit. Pun tampak pipa-pipa milik PT Chevron di sisi jalan menemani perjalananku di aspal yang tak rata. Tak heran Riau maju pesat, tanahnya banyak mengandung minyak! Selain itu, kelapa sawit juga merajai industri di sini.
Kemajuan ekonomi secara makro bukan berarti rakyatnya sejahtera. Sangat banyak terlihat rumah-rumah gubuk di sisi jalan, dan banyak yang bilang air di sini kurang bagus untuk dikonsumsi. Kuning dan berbau. Mengingatkanku pada tanah Keerom di Papua yang pernah kuhuni selama setengah tahun.
Pekerjaan yang cukup menyita waktu di sini membuatku tak punya kesempatan untuk sekedar membeli cinderamata. Empat hari di sana, aku kemudian kembali ke Jakarta dan mengerjakan tugas selanjutnya.
Selamat berkunjung ke Pekanbaru pak, semoga berkesan, saya masy.Riau di Jakarta,sekadar ingin menambahkan nih,
Gedung diatas namanya Gedung Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Riau, Soeman Hs. Gedung ini dibangun dan diresmikan pada 2009 lalu karena Riau belum memiliki gedung perpustakaan yang layak dan representatif, ini adalah bentuk usaha luar biasa pemprov Riau dlm mengapresiasi fasilitas dan ruang baca public.
Riau bisa menjadi makmur bukan murni karena migas yang terkandung didalamnya.
Pendapatan Per Kapita Non-Migas (maknanya di luar campur tangan Chevron yang mengelola minyak bumi Riau), bahkan TERTINGGI di tanah Sumatra. Ini bukan isapan jempol, tapi memang indikasi perekonomian di luar sektor Migas di RIau memang tinggi dan cukup ter-utilisasi.
Setuju, memang masih bisa lebih lagi dari itu. Tapi, sebenarnya apa yang rakyat Riau rasakan sekarang JAUH LEBIH BAIK dari masyarakat di Provinsi lain (tentunya di luar DKI Jakarta).
Rumah-rumah yang bapak lihat disepanjang jalan Pekanbaru-Dumai itu adalah kebanyakan rumah para pendatang untuk mengelola perkebunan negara tidak bisa dijustifikasi sebagai gambaran masyarakat Riau sebenarnya. Dan memang air disana berwarna kuning dikarenakan air lahan gambut.
Karena berbeda dengan perjanjian pemerintah pusat dengan FREEPORT di Papua sana, di mana 80% untuk Freeport sedangkan 20% untuk Pemerintah. TIDAK ADIL, memang! Tapi, berbeda dengan Chevron … karena untuk kasus Riau, 80% untuk pemerintah, dan 20% untuk pihak Chevron
Pemerintah Riau juga berkontribusi loh, dalam mengembangkan perminyakan di Riau. Cuman karena bapak berjalan ke arah Duri dan Dumai … bapak jadi tidak melihatnya saja.
Coba, kalau bapak berjalan ke arah Siak Sri Indrapura. bapak akan melihat, kontribusi BUMD Pemerintah Riau dalam pengelolaan minyak. Walaupun kapasitasnya jauh lebih kecil dari Chevron. Tapi itu bukti, bahwa Rakyat Riau juga mampu. APalagi, usia pengelolaan ini tergolong baru … Baru paska Era-Otonomi Daerah. Kalau pernah dengar istilah BOB (Badan Operasi bersama). Itu pengelolaan Minyak bumi di bawah tangan daerah. Perusahaan yang terlibat antara lain KONDUR PETROLEUM, RIAU PETROLEUM, dan PT. BUMI SIAK PUSAKO.
Kalau di Riau sudah berproduksi sekitar 500 ribu barrel per hari. Maka BOB sudah mampu memproduksi 22 ribu barrel per hari (dengan pengalaman kerja 10 tahun, paska Otonomi Daerah). Bandingkan dengan PT. CPI yang sudah ada di Riau sejak tahun 1940 :).
Bila berkunjung kembali, jangan lewatkan oleh-oleh Bolu Kemojo, Lempuk Durian, Kue bangkit, kacang pukul, Brownies khas, Keripik nenas, keripik balado, keripik keju, roti jala dan es laksmana mengamuk 🙂 cinderamata juga banyak dijual di pasar wisata pasar bawah.
Dinanti kunjungan berikutnya 🙂
wow, terima kasih informasinya, Pak Satria.