SLB G A/B Helen Keller

YD: dim,
YD: aku serius lho baru cari donatur
YD: kmu cariin ya, tmnmu ato saudaramu ato siapa yg mau peduli ma anak2ku disini

Ini sepenggal pembicaraanku dengan seorang teman lama yang kini memenuhi panggilan hidupnya menjadi biarawati dan sedang mengabdi di SLB G AB Helen Keller Yogyakarta.

Berikut ini kumpulan berita yang kuambil dari berbagai sumber di internet.

Sumber : http://humas.jogja.go.id/index/bukutamu.view/7/210

Jogja adalah kota pendidikan Oleh karena harus terus diupayakan mutu dan pelayanan pendidikan Terlebih lagi pelayanan pendidikan bagi penyandang Tunarungu-netra Di Yogyakarta terdapat SLB khusus Tunarungu-netra (G-AB) yaitu SLB Helen Keller Indonesia Menurut data Dinas Pendidikan DIY, SLB HKI adalah satu-satunya SLB bagi Tunarungu-netra di Yogyakarta Sedangkan di Indonesia baru terdapat lembaga, yaitu Rawinala di Jakarta, Bakti Luhur di Malang dan Helen Keller Indonesia di Yogyakarta

Sumber : http://www.slbaisyiyah-tasik.or.id/Berita_2.php

Anak SLB Itu Bercita-cita Menjadi Presiden

Oleh
Yuyuk Sugarman

Yogyakarta – Sigit Aris Prasetya terlihat bahagia, Kamis (14/2) siang lalu. Ia bisa menonton teman-temannya dari SLB B Dena Upakara, Wonosobo, menarikan sendratari Ramayana di panggung untuk menyemarakkan peresmian sekolah danasrama SLB Ganda AB Helen Keller Indonesia di wilayah Wirobrajan, Yogyakarta.
Berbeda halnya dengan Fernando Dava Wardhana (6), asal Sragen. Ia terlihat tak pernah diam karena hiperaktif, di samping menderita low vision, tunarungu dan juga tunawicara. Fernando tak peduli dengan kegembiraan yang dirasakan seluruh pengurus dan teman-temannya pada hari itu. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri dan badannya selalu bergerak serta matanya selalu mencari cahaya yang terang.
“Kalau mendung dia marah dan kalau marah memukul kepalanya sendiri. Ia memang istimewa dan harus mendapat pengawasan yang khusus. Kalau lengah sedikit, ia bisa lari ke jalan besar,” ujar Suster Stanis, guru di SLB Ganda AB Helen Keller.
Jika Fernando mendapat perlakuan istimewa, maka Sigit juga mendapat perlakuan yang istimewa pula, meski dalam titik yang lain. Anak semata wayang pasangan Rasidan dan Sariyem (keduanya tunanetra) ini justru mendapat kesempatan untuk bersekolah di SD Negeri Demak Ijo, Godean. Bahkan, kini ia sudah duduk di kelas III serta mengaku pandai berhitung serta membaca, meski hurufnya harus besar-besar. Sigit juga mengaku biasa pergi sendiri ke sekolah yang jaraknya sekitar 3 km dengan naik bus kota. “Setiap hari saya naik bus. Ongkosnya Rp 1.000 sekali jalan,” ujar Sigit (10).
Ada rasa bahagia dalam diri Sigit bisa sekolah di sekolah umum. Namun, di sisi lain, ia bercerita jika di sekolahnya di SD Demak Ijo, tak jarang dirinya diledek karena keadaan fisiknya. “Ya tentu saja saya nangis.Saya laporkan ke guru. Tapi, saya tak sakit hati,” ungkap Sigit.
Apa cita-citanya jika sudah besar? “Ingin jadi presiden,” tegas Sigit.
Terlepas dari bisa atau tidaknya cita-citanya terwujud mengingat ada syarat menjadi seorang presiden harus sehat jasmani dan rohani, Sigit dan juga 10 temannya yang lain yang tinggal di asrama tersebut harus didorong terus untuk mengembangkan diri untuk menjadi manusia berkualitas lewat
pendidikan.
“Sungguh saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Yayasan Dena Upakara karena terpanggil untuk menjalankan misi kemanusiaan yang mulia ini, sementara yayasan pendidikan yang lain saat ini justru banyak yang berorientasi bisnis,” kata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dalam sambutan tertulis.
Sultan lantas mengutip pendapat Confusius yang mengatakan, in education there is no discrimination. Dia menjelaskan, pendidikan diskriminatif ini terjadi ketika keutamaan bukan lagi kasih dan keadilan, melainkan keuntungan materi dan kekuasaan.
“Perubahan ini meniadakan pula idealisme dalam pendidikan, yaitu kearifan dan kewibawaan,” tegas Sultan.
Sementara itu, Suster Provinsial Tarekat Suster Puteri Mariadan Yosef, Sr Antonie Ardatin PMY,
mengatakan pihaknya akan terus mengembangkan SLB Ganda AB Helen Keller untuk bisa menampung serta mendidik anak-anak yang menderita tunaganda ini. Jika pada awalnya hanya menampung 11 anak, maka dengan dibangun serta adanya perluasan ini (dibangun di atas lahan seluas 1.000 meter persegi dengan biaya Rp 2,1 miliar dan didanai oleh lima LSM dunia) maka SLB ini bisa menampung sebanyak 40 anak.
Diingatkan Suster Antonie, anak cacat bukan merupakan aib keluarga ataupun menjadi beban masyarakat. Biasanya keberadaan anak yang cacat ini juga lantas memicu saling tuding antara kedua orang tuanya. “Dia (anak cacat – red) bukan aib, bukan beban, tapi justru batu ujian cinta kasih,” tegasnya.

Butuh Uluran Tangan Pemerintah
Untuk itu pula, menurut Suster Antonie, Helen Keller hadir untuk menjawab tantangan dan kebutuhan itu. “Kalau namanya Helen Keller karena kami ingin belajar dari semangat Helen Keller yang karena keterbatasannya nyatanya berhasil menggapai ilmu meraih gelar sarjana serta menjadi ahli sastra,” ujarnya
Suster Antonie juga tak membantah jika dalam mendidik anak-anak yang berkebutuhan khusus tentu memerlukan biaya yang besar. “Tentunya kami juga tetap membutuhkan uluran tangan pemerintah dan khusus kepada Pemda DIY, kami titip sekolah ini,” ujarnya.
Ditambahkan Suster Magda, Kepala Sekolah SLB Ganda AB Helen Keller, dalam sebulan dibutuhkan biaya operasional sekitar Rp 20 juta. Besarnya biaya operasional ini tak bisa ditutupi dengan sumbangan dari para orang tua anak-anak yang masuk, yang jika dihitung dalam sebulan hanya masuk sekitar Rp 2 juta.
“Kami tak mungkin meminta lebih dari orang tua Sigit yang berprofesi sebagai tukang pijat di Bantul. Bisa ditebak, memijit di Bantul paling cuma dibayar sekitar Rp 2.000,” tuturnya.
Karenanya, untuk bisa terus beroperasi demi misi kemanusiaan itulah, pihaknya selalu mencari donator yang peduli terhadap pendidikan anak-anak yang berkebutuhan khusus ini. “Kami lebih menyukai donatur yang menyumbang secara kontinu meski jumlahnya kecil, karena ada kepastian,” tambahnya.

Sumber : http://fkpadiyjateng.multiply.com/journal/item/11

ASRAMA HELEN KELLER INDONESIA
jL.RE.MARTADINATA NO 88 A Wirobrajan
Yogyakarta

Berdiri pada tahun 1997.
Dikelola oleh suster-suster PMY.
Melayani 9 anak Tuna ganda (Tuna rungu dan tuna netra)
Jumlah pengasuh 4 orang.

Visi : Berdasarkan nilai-nilai kristiani,SLB/G-AB Helen Keller Indonesia mengaktualisaiska kerajaan Allah dalam pelayanan cinta kasih kepada sesama yg miskin dan lemah khususnya kepada Tuna rungu-netra,tunanetra,tunarungu low vision,tunarungu tuna wicara.

Misi:
1.SLB/G-AB Helen Keller Indonesia siap sedia menanggapi kebutuhan aktual gereja dan masyarakat dalam pelayanan pendidikan bagi anak tunarungu ganda dan deafblind secara profesional dan dalam suasana kekeluargaan.

2.Meningkatkan martabat anak tunarungu ganda sehingga mampu berkembang secara utuh dan hidup mandiri

3.Meningkatkan dan mengembangkan komunikasi formal dan informal dengan semua pihak terkait.

No rekening:
1.Bank BNI pusat
Ahmad Dahlan Yogyakarta
An.Sr.Magda PMY,no 0106539883

2.Bank BA KCP
Ahmad Dahlan Yogyakarta
An.Sr.Magda PMY,no 1691761598

Telp: 0274-618089

Sumber : http://dkdewi.multiply.com/photos/album/75/Kunjungan_ke_SLB_Helen_Keller

Aku dan teman-teman dari pengurus inti FKPA melakukan kunjungan ke SLB Helen Keller Yogya.Speechless..itu yg terjadi dgnku kmrn.Anak-anak tuna rungu dan low vision..duh..tidak bisa mendengar,tidak bisa melihat..masih ditambah penglihatan terbatas bahkan ada yg nyaris buta.Seperti apakah dunia ini bagi mereka?Aku hampir menangis melihat bagaimana mereka mencuci piring dan membersihkan meja selesai makan siang.Itu dilakukan secara bergiliran sesuai jadwal.Bahkan anak-anakku sendiri selama ini tidak pernah melakukan itu secara rutin di rumah.
Anak-anak itu dilatih kemandirian,sehingga keterbatasan yg mereka miliki tidak menjadi halangan bagi mereka untuk berkembang dan hidup selayaknya orang normal,di lingkungan orang-orang yg juga normal.Mereka pandai menari,juara lomba menggambar.Bahkan ada yg berangkat sekolah dgn bis umum,sendiri!

Luar biasa…dan aku masih tetap speechless hingga saat ini bila ingat mereka.

Sumber : http://www.fotografer.net/isi/galeri/lihat.php?id=970314

kesabaran suster

keterangan: suster dari kongregasi PMY mengajarkan cara membaca huruf braille kepada anak tuna netra di SLB hellen keller yogyakarta.

Sumber : http://youthforumkp.blogspot.com/2009/06/hari-kasih-sayang.html

Hari Kasih Sayang

Valentine oleh sebagian orang dimaknai sebagai tonggak yang bisa untuk mengukur di mana sesungguhnya kasih sayang itu harus ditanamkan. Bagi mereka yang memandang kasih sayang lebih luas lagi akan melakukan apa saja untuk kebaikan orang lain, termasuk kepada alam di sekitarnya.

Kalangan muda di Wates, Kulon Progo, misalnya, lebih suka merayakan Hari Valentine dengan berbagi kebahagiaan bersama teman dan keluarga. “Kami hanya mengambil positifnya. Kami tetap merayakan valentine bersama dengan teman-teman atau keluarga. Kami merayakan untuk saling mengingatkan jika kami memiliki orang-orang yang sayang sama kami,” ujar Okta Fanjarwati, siswa SMKN 1 Pengasih, Jumat (13/2).

Natalia Desy Trijayanti bersama remaja lain yang tergabung di organisasi Youth Forum Kulon Progo, Sabtu pagi ini membagikan bunga kertas berisi pesan moral bagi remaja. Salah satu isi pesan itu adalah menjaga pacaran sehat.

Kegiatan yang lebih berarti dilakukan para siswa SMK II Depok, Sleman. Pukul 10.00 hari ini, mereka mendonorkan darahnya bersama para guru dan siswa sekolah lain. Para siswa ini berharap setetes darah yang keluar dari nadi mereka bisa menyelamatkan orang lain yang membutuhkan.

Menurut Ketua II kegiatan donor darah Arwan Prasetyo, yang didampingi oleh Koordinator Pembina OSIS Habibah, sebelum donor dimulai, terlebih dulu dilakukan seminar tentang kesehatan reproduksi dengan menghadirkan narasumber orang-orang kompeten di bidangnya, termasuk dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan Totok Wardiyanto mengatakan banyak remaja yang belum paham tentang kesehatan reproduksi.

Minggu siang, para siswa SMK II Depok yang tergabung dalam Stembayo Hiking Club (SHC) juga akan melakukan kerja bakti di Jalan Affandi. Melalui kerja baktisekaligus dalam rangka ulang tahun SHC itulah para siswa berupaya menunjukkan kepedulian dan kasih sayangnya terhadap lingkungan.

Kasih sayang pun tidak hanya dimiliki oleh mereka yang normal. Para siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunarungu dan Tunanetra Hellen Keller, Wirobrajan, Yogyakarta, merayakan valentine secara sederhana melalui saling tukar kado antara guru dan murid. Sebanyak 19 anak asuhan SLB Hellen Keller mulai Jumat, keluar asrama untuk berbelanja kado di sekitar asrama.

Karena harga kado dibatasi Rp 1.500, sebagian besar siswa hanya membeli kue atau snack. “Kami memang hanya merayakan dengan sederhana saja karena yang paling penting adalah mengenalkan semangat berbagi pada mereka,” kata Kepala SLB Hellen Keller Indonesia Suster Magdalena.

Sebagai anak yang tumbuh dalam keterbatasan, berbagi bukanlah hal yang mudah dipahami. Tak heran, seorang anak menangis ketika bingkisan mereka diambil oleh sang guru. “Semua ini harus diterangkan dengan sangat rinci dan harus dibahasakan melalui isyarat,” kata Suster Magdalena.

Meskipun tak mudah, 19 anak berusia 4-19 tahun itu tampak dengan tekun membungkus bingkisan kado dengan kertas koran. Sesekali, pertikaian dan keributan antara anak-anak terjadi. “Hal ini biasa terjadi, mereka memang punya temperamen tinggi. Beberapa dari mereka lahir dengan agresivitas tinggi,” kata salah seorang guru kelas, Krismartanti (30).

11 Comments

  1. gita pamuncak said:

    apakah helen keller juga menangani penyandang cacat fisik (tuna daksa)?

    11 October 2009
    Reply
    • admin said:

      saya kurang mengerti, tetapi kalau dilihat dari namanya, ini adalah SLB ganda A dan atau B. (penglihatan dan pendengaran)

      semoga bisa membantu 🙂

      12 October 2009
      Reply
  2. Brigitta said:

    hebat gita titip slm teman HKI

    23 November 2009
    Reply
  3. lanny said:

    saya pun punya anak menderita rop, dia bsa mendengar saya rasa krn bisa mengerti apa yang saya bicarakan. tapi dia belum bisa bicara hanya ucapan2 yang tidak ada artinya. apakah disana ada asrama?

    27 December 2009
    Reply
  4. dim said:

    ya, di sana ada asrama.

    27 December 2009
    Reply
  5. sukinah said:

    salut dengan perjuangan beliau-beliau pejuang sejati dunia pendidikan, tak terbayangkan olehku bgm mereka….satu masalah sj timbul bnyk masalah apalagi dua atau ganda tentu pemicunya yg lain bnyk…salut dech…kpn2 pasti ksn…hampir tiap lewat tp kok blm sempat….met berjuang

    14 January 2010
    Reply
  6. M. Yasin, S.Pd said:

    Angkat jempol dengan dedikasi teman-teman di Hellen Keller, semoga bertambah maju dan manfaat untuk umat …amien
    Salam…

    12 June 2010
    Reply
    • admin said:

      terima kasih Pak Yasin, saya juga salut pada pengabdian Anda sebagai kepala sekolah di sekolah khusus autis Bina Anggita Yogyakarta. semoga semangat melayani yang Bapak tunjukkan dapat menjadi teladan bagi semua orang.

      12 June 2010
      Reply
  7. dinda ratna sari said:

    dinda ratna sari selamat sore senang

    7 September 2011
    Reply
  8. dinda ratna sari said:

    fanh

    7 September 2011
    Reply
  9. maria said:

    maaf suster, adik saya autis.. sdh bisa beraktifitas seperti anak.anak biasanya, tapi blm bisa bicara. apa bisa diterima di SLB Helen Keller? mohon petunjuknya, tks. Tuhan memberkati.

    5 August 2012
    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.