Sepeda

Ngeliat telapak kakiku yang udah mulai kapalan dan sol sepatu yang makin menipis, aku jadi rindu dengan sepeda.
Yay, sejak kecil aku pengguna berat sepeda.

Sepeda adalah partnerku. Sidekick, orang barat bilang.

Sepeda yang paling berkesan bagiku tentu saja sepeda balap silver asli yang dibawa ayahku dari Jepang sebagai salah satu oleh-oleh. Dengan sepeda ini aku mengerat jalanan Semarang sepanjang masa SMP dan SMA. Teringat masa-masa kehujanan waktu itu, tak sekalipun terlintas dalam kepalaku untuk berteduh demi menanti hujan selesai beraksi. Waktu itu sama sekali tak kepikiran kalau cipratan lumpur di punggung sama sekali tak sedap dipandang.
Jalanan antara rumahku yang di Tlogosari dengan SMPku di Tugu Muda kalau tidak salah bisa kuhabisi dalam tempo 20-an menit. Itulah yang membuatku sempat berpikiran untuk jadi atlet balap sepeda, yang tentunya tak kesampaian.

Sahabat bersepedaku di SMP ada beberapa: Daniel, Frigid Andika, Fathaka, Ong Kian Tjan. Dua nama terakhir ini ditambah diriku, jadi pesepeda yang punya jarak tempuh paling jauh. Dan kami bertiga jadi punya fisik yang cukup tangguh, selalu teratas dalam urusan lari dan pekerjaan berat. Hahay. Aku jago marathon, Fathaka ahli sprint, dan Ong Kian Tjan yang biasa dipanggil Cancan itu tak pernah kehabisan nafas untuk lari jenis apapun -kecuali lari halang rintang, kami belum pernah mencobanya.

Semasa SMA aku pernah berhenti memakai sepeda. Waktu itu jaman anak muda pamer sepeda motor, jadilah aku termasuk salah satu pemuda sok kece yang paling doyan nampang di atas mesin beroda dua dengan kepala ditutupi helm cakil.
Tapi pada akhirnya aku kembali ke kebiasaan lama: bersepeda.
Masih dengan jiwa pembalap, tiap hari sepertinya aku punya ambisi mempertajam rekorku bersepeda dari rumah ke sekolah, yang kalau tidak salah pernah mencapai sekitar 7 menitan. Entah kalau aku salah hitung. Hehehe….

Sekarang di Jakarta, sepertinya aku tertarik membawa sepeda legendarisku itu ke sini….

2 Comments

  1. ong kian tjan said:

    hello dimas, dimana kamu sekarang?

    Udah lama kita tidak kontak…

    Ceritamu ini mengingatkan aku kembali…

    bahwa hidup ini penuh perjuangan…

    Saat kita diatas, perlu sekali menengok ke belakang saat kita susah…..

    dan saat kita susah dan penuh cobaan,
    kita perlu lihat masa lalu kita yang penuh semangat dan keberanian untuk mencapai impian…

    Thank Dimas…

    Sukses selalu buat kamu..GBU

    13 February 2010
    Reply
  2. samuel vicky chan said:

    Yup…..udah 6 tahun kita gak ketemu….

    kangen dengan kenangan waktu2 SMP dan SMA…

    Sekarang aku di surabaya….

    Km di Jakarta sejak kapan?

    Ini No HPku : 08180247xxxx, 4 digit terakhir yakni:

    digit 1)Di Loyola aku kelas 1 apa? huruf alfabet ke berapa?
    digit 2) di Loyola aku kelas 2 apa?huruf alfabet ke berapa?
    digit 3) Kelas SMP kita + 4 = digit ke-3
    digit 4) Digit 1 dikurangi digit ke-2 = digit ke -4

    sorry dimas, aku kasih tebakan…takutnya nti nomor teleponku diketahui banyak orang…

    nti kalau aku ke Jakarta, aku kontak kamu….

    Tetap semangat yah..GBU:)

    CU

    22 February 2010
    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.