Selamat Hari Kartini

Selamat hari Kartini, 21 April.

Hari Kartini biasa diidentikkan dengan gerakan emansipasi wanita. Sejak SD aku diajar bahwa dahulu wanita dijajah pria, bla bla bla, dan seorang tokoh wanita mencetuskan gerakan emansipasi bagi wanita Indonesia agar punya kedudukan yang setara dengan pria. Dialah Kartini.

Emansipasi. Kata yang dulu kuanggap 100% murni baik, sekarang-sekarang ini kembali kupertanyakan. Ini maksudnya setara dalam kapasitas apa? Sebuah artikel opini di kompas tertulis begini.

Menurut Septiana, Hari Kartini merupakan saat dimulainya kesadaran bahwa seorang perempuan tidak hanya cuma berdiam diri saja dan berserah pada keadaan. Berkat perjuangan Kartini, kini perempuan banyak yang mengenyam pendidikan setara dengan pria.

Selain itu, perempuan juga banyak yang bekerja. “Ada emansipasi, wanita lebih banyak bekerja, modern, independen. Nggak zaman dijajah pria lagi. Zamannya menjajah pria,” tuturnya sambil tertawa.

Dia mengaku terakhir merayakan Hari Kartini saat masih duduk di bangku SD. Saat itu, dia harus berdandan rapi mengenakan pakaian daerah saat berangkat sekolah. Kendati repot, dia mengaku bagga bisa mengenakan pakaian daerah. “Ribet kan ya. Tetapi saya bangga,” ujarnya.

Deri (19), mahasiswi Atmajaya mengatakan hal yang sama. Menurutya, Hari Kartini dimaknai sebagai kebebasan kaum wanita dari pria. “Kita nggak harus di dapur lagi. Sekarang bebas kerja,” kata Deri.

Tentang kesetaraan hak dan kewajiban oke, termasuk di dalamnya hak mengenyam pendidikan. Tapi menurutku masih ada hal-hal yang debatable. “Kita nggak harus di dapur lagi. Sekarang bebas kerja“. Lho, memangnya di dapur itu sebuah perendahan harga diri wanita? Atau para wanita saja yang terlalu sensi pada pekerjaan berkotor-kotor di dapur? Ataukah segala pekerjaan tanpa menonjolkan diri adalah rendah?
Lalu bagaimana dengan mengurus anak kalau semua wanita bekerja? Ini yang masih belum dapat kupecahkan. Bagaimana mungkin seorang anak tumbuh hanya diasuh oleh baby sitter? Okelah barangkali si ibu masih menemaninya bermain barang satu dua jam. Tapi apa itu cukup? Mengingat bahwa masa kecil anak tak dapat diulang, terjadi sekali seumur hidup, dan merupakan waktu-waktu krusial bagi si anak dalam menapak masa depannya, ke mana si ibu? Apakah demi harta atau kehormatan lantas mengorbankan anak?

Segala hal yang ingin kita capai selalu menuntut pengorbanan, itu adalah hukum ekual, atau equal trade yang berlaku universal. Lantas apa yang akan kau korbankan demi “sejajar” dengan pria, wahai wanita?

2 Comments

  1. bangpay said:

    saya nungguin menjamurnya toilet unisex…. kan keren tuh.. harus mau!! terutama para penggagas kesetaraan dan kesejajaran… yuuk… 🙂

    22 April 2010
    Reply
    • admin said:

      hihihi. kayanya sulit bang.

      23 April 2010
      Reply

Leave a Reply to admin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.