Senin tanggal 21 aku berkesempatan mengunjungi Medan, tentunya dalam rangka kerja, tapi kasus kali ini tidak serumit biasanya dan hanya memakan waktu 1 hari di lapangan. Sisanya proses analisis yang dikerjakan di hotel. Nah seperti biasanya, wisata kuliner juga diadakan 😀
Hari pertama sebenarnya cukup melelahkan, namun tidak menyurutkan niat tim untuk menyantap masakan sedap. Kami berkunjung ke restoran seafood Waringin, entah tempatnya di mana. Di situ cukup lengkap masakannya, mulai dari makanan pembuka berupa sate kerang yang pedas, kami memesan kepiting saos, kepiting lada hitam, ikan kerapu steam, gurame bakar, cumi goreng tepung, dan udang goreng. Rasanya enak, hanya saja kepitingnya tidak praktis dimakan karena harus dipecahkan sendiri cangkangnya, masalahnya kepiting saos itu terlalu licin jadi susah mecah cangkangnya.

Hari kedua, kami memaksimalkan waktu dengan menyantap masakan istimewa semaksimal mungkin. Kami mengunjungi restoran Bintang (seafood dan masakan padang) dan memesan udang goreng, kerapu steam, ayam goreng, dan beberapa sayur dan lauk lainnya. Udang goreng di sini sungguh istimewa, dan kerapu steam juga merupakan menu andalan. Sebagai minumannya, Anda bisa memesan martabe, minuman khas Medan, singkatan dari markisa dan terong belanda, atau begitulah kira-kira. Rasanya sedikit asam dan unik.
Petualangan tidak sampai di situ karena durian Ucok sudah menanti. Sebenarnya aku tak mampu terlalu banyak makan durian. Lima biji durian sudah cukup membuat perutku kepanasan. Nah, di sini aku baru tahu kalau ada banyak jenis durian, ada yang manis, ada yang sedikit pahit, ada yang berwarna putih, kekuningan, dan kuning pucat, masing-masing punya rasa khas yang berbeda.
Sedikit cerita tentang warung durian Ucok ini. Si Ucok pemilik kios ini dulunya preman. Namun si preman tobat dan memulai usaha berjualan durian. Sedikit demi sedikit usaha dirintisnya, hingga menjadi besar seperti sekarang. Durian Ucok ini paling terkenal di seantero Medan, bahkan hingga ke kota-kota lain, namanya mentereng sebagai penjual durian enak. Padahal sebenarnya kios ini tidak istimewa. Letaknya di pinggir jalan, di depan ruko yang tampak seperti penjual buah musiman. Namun jangan tanya berapa jumlah pembelinya. Kalau malam tempat ini selalu ramai dikunjungi pembeli yang khusus datang untuk makan buah durian.
Perjalanan makan malam tidak berhenti sampai di sini, karena ada satu lagi yang harus kami cicipi : teh tarik hotel Emeral Garden. Teh tarik ini campuran teh dan susu yang diberi rempah-rempah. Yang unik, teh dan susu tercampur dengan sempurna karena teknik mencampurnya yang istimewa, menggunakan 2 cangkir yang dituang-tuang sehingga terlihat seperti ditarik.

Masing-masing mendapat segelas besar teh tarik jahe hasil rekomendasi sang general manager hotel, namun kata temanku, rasanya kurang orisinil, dan akhirnya kami memesan segelas lagi teh tarik tanpa jahe. Memang teh tarik gelas kedua rasanya lebih nikmat karena tidak ada rasa jahe yang menutupi aroma dan rasa asli teh tarik.
Hari ketiga, kami menyempatkan diri mengunjungi lontong medan yang terkenal itu. Restoran yang kami kunjungi kalau tidak salah namanya Kak Lin, letaknya di depan SMA 1 Medan. Lontong Medan rasa dan tampilannya seperti lontong sayur, tetapi sekilas mirip juga dengan rasa mi kopyok atau mi tektek.

mantep maz ud jelajah Indonesia sampe mana2…! smtr aku “stuck” di Cikarang terus… hahaha…