KPA vs Ponari

Setelah menyelesaikan kasus Syeh Puji, kali ini tampaknya KPA turun gunung lagi demi Ponari sang dukun cilik sakti. KPA, Komisi Perlindungan Anak, menduga ada eksploitasi terhadap Ponari yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Mantap!
Aku yang sukanya mencela ini meneruskan hobinya. Kok cuman kasus-kasus terkenal saja yang ditangani KPA ya. Tengok saja track recordnya. Berbagai kasus para artis, kemudian Syeh Puji, dan kali ini Ponari. Apakah KPA memang hanya untuk kasus-kasus besar saja? Apakah mereka tidak melihat eksploitasi anak-anak di setiap perempatan jalan kota di negara ini? Argh!

Seandainya KPA tak melulu ngurusin yang gede-gede tentunya tak ada lagi anak-anak yang menghabiskan masa kecilnya di jalanan….

Aku juga ingin mengulik kontes Idola Cilik di televisi. COBA LIHAT DAN PERHATIKAN! Mereka anak-anak juga bukan? Apakah patut anak-anak berpenampilan laiknya artis karbitan yang dengan kostum klimisnya berusaha memikat para penonton dengan suara mbleronya dan cerita-cerita mengharukan demi simpati penonton agar raihan sms makin bertambah?
Pada akhirnya, mereka inilah yang diperas demi uang sms premium, bukan begitu? Masak anak-anak disuruh nyanyi lagunya Peter Pan, d’Masiv, atau Nidji? Sing bener wae….

Kalau mau merenung, sebagus apa sih suara anak-anak ini hingga pantas dijadikan idola? Dan siapa sih orang yang benar-benar menjadikan mereka, atau salah satu dari mereka, sebagai idola? Yang logis dong! Mereka kan juga libur sekolah demi latihan vokal, sama seperti Ponari yang tak masuk sekolah demi mengobati pasien. Lantas, jika praktik Ponari diberangus, kenapa kontes Idola Cilik masih bisa tampil?

Only God knows why.

2 Comments

  1. mybrainsgrowell said:

    yah, klo yg muncul di permukaan aja gak di tanganin, gmn yang gak keliatan. jadi sudah seharusnya klo mereka menangani kasus kasus yg besar itu.

    15 February 2009
    Reply
    • admin said:

      iya sih. tapi kok jadinya kayak tebang pilih gitu….

      15 February 2009
      Reply

Leave a Reply to admin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.