Jakarta, The Real Jungle

Perjalanan ke Jakarta kemarin membawaku pada banyak pengalaman baru. Tak ada yang mudah di kota ini; semua diperoleh dengan usaha lebih. Aku banyak mengamati orang-orang, terutama ketika aku berada di bus kota.
Demi menghindari kemacetan lalu lintas, orang sini mulai beraktivitas di jalanan saat hari masih gelap. Pukul 5.15 sudah bisa dijumpai para karyawan berbaju klimis, mahasiswa, ibu rumah tangga yang hendak ke pasar, juga anak-anak sekolah. Dan tentunya para sopir angkot telah beraktivitas lebih pagi daripada penumpang angkotnya. Berdasarkan penuturan teman-teman wanita sesama peserta orientasi, mereka harus bangun pukul 3 pagi agar sempat sarapan pagi dan tidak terlambat pada orientasi yang dimulai pukul 7 pagi.

Jika sudah jam berangkat atau pulang kantor, maka para pengguna angkot harus berdesak-desakan di dalam kendaraan, bahkan tak jarang harus berdiri hingga beberapa jam. Pengguna kendaraan pribadi pun tak kalah pusing. Kemacetan akibat padatnya lalu lintas membuat mereka harus mengemudi ugal-ugalan demi sejengkal jalan. Ini lalu menimbulkan penyakit gila nomer 45 versiku sendiri : sangat senang membunyikan klakson sambil mengumpat.

Tak seperti di kota-kota lain, mal-mal di Jakarta hampir semuanya sepi pada jam kerja. Hanya pengangguran dan ibu-ibu metropolis penghisap harta suami lah pengunjung setia mal di jam kerja.

Di Jakarta rate upah memang tinggi, tetapi harga barang jauh lebih tinggi. Aku tak bisa membayangkan bagaimana orang bergaji 1 jutaan bisa menghidupi keluarganya di Jakarta. Tentu harga makanan dan kebutuhan lainnya akan melilit hidup mereka.

Dengan keadaan serba sulit seperti yang kugambarkan di atas, gelombang urbanisasi ke Jakarta tak pernah surut, bahkan meningkat dari tahun ke tahun. Mereka yang tanpa skill mumpuni dan berpikir mampu menaklukkan ibukota, pada akhirnya hanya memiliki 2 pilihan : pulang atau tergilas kehidupan megapolitan. Namun pada umumnya orang akan bilang bahwa Jakarta adalah tempat yang baik untuk menempa diri. Sukses di Jakarta, sukses pula di daerah.
Aku yang selalu sinis pada kota ini pun mulai percaya akan hal itu.

5 Comments

  1. Welcome to the jungle dim.. Tapi rate upah di jakarta masih aja rendah kalo mata uangnya masih rupiah, hehehe

    Btw awakmu urip nandi? Ngumpul2 lah cah2 ikomp.. yuuu..

    12 January 2009
    Reply
  2. admin said:

    wingi jeh dolan bram, durung penempatan je 😀

    cah ikomp sing nang jkt sopo wae Bram?

    12 January 2009
    Reply
  3. celoteh-burung-pipit said:

    Hupf.. memang begitulah bro..
    Hidup disini keras.. lebih tepanta jahanam wahahahaha
    Harus pandai memutar otak, kalau udah gag ada otak yah kaki ato tangan…(pokoke asal ada yang diputar) biar bisa hidup..
    Oiya, tanggalkan rasa malu, dan tatap lah masa depan yang keras di kota ini..
    Klo mau kontak temen-temen yang di Jkt, bisa contact di web saya..
    Trims..

    13 January 2009
    Reply
  4. admin said:

    yes, tengkiu 😀

    13 January 2009
    Reply

Leave a Reply to setanmipaselatan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.