Hitam sepertinya, bila bumi dilihat dari langit.
Aku baru saja kembali dari Pekalongan. Mengendarai sepeda motor petang hari benar-benar tak menguntungkan bagiku karena aku terpaksa membuka kaca helm demi mempersilakan menangkap lebih banyak cahaya. Jalanan sangat gelap di beberapa tempat dan tidak rata, ciri khas jalanan Indonesia.
Itu tidak seberapa dibandingkan yang kualami barusan. Entah kenapa, jalanan begitu padat dengan kendaraan-kendaraan besar. Long vehicles benar-benar merajalela dengan kecepatan lambatnya. Aku memang baru kali ini pulang hari Rabu, berhubung besok libur makanya aku merelakan diri tercebur di aspal Pantura. Tetapi aku tak menyangka kalau bakal menjadi bulan-bulanan asap knalpot kendaraan-kendaraan raksasa itu. Benar-benar hitam-padat-pekat, dan banyak!
Aku coba membayangkan berapa banyak asap yang dikeluarkan semua kendaraan di dunia perdetik, atau perhari, belum lagi ditambah asap pembakaran pabrik-pabrik. Pasti tidak sedikit….
Aku iseng-iseng ngaca, sesampainya aku di rumah. Ternyata bagian wajahku yang terpapar angin berwarna hitam, coreng-moreng arang pembakaran. Barangkali wajah bumi juga sudah coreng-moreng oleh ketidakpedulian manusia akan pencemaran udara….
Judul kuambil dari salah satu acara televisi entah yang mana 😀
Be First to Comment