Postingan kali ini nggak penting sih, cuma mengisi malam minggu yang biasa.
Biskuat, barangkali cemilan yang paling banyak kumakan di perantauan dalam 3 tahun terakhir. Cerita kebersamaanku dengan biskuat dimulai beberapa bulan sebelum akhir 2007, saat itu aku dipindahtugaskan ke kabupaten lain di Papua. Di awal-awal tugas, saat itu kami satu tim yang bertugas harus ngelaju, perjalanan itu sendiri memakan waktu 1,5 jam per rit.
Dengan biaya makan yang besar, tentu saja aku sebisa mungkin menghemat pengeluaran pribadi. Kebetulan di depan kontrakan dulu ada warung, dan di warung itu dijual biskuat. Awalnya sih iseng beli buat ganjal perut, tapi ternyata rasanya enak dan mengenyangkan, cukup buat nunggu makan siang, hehehe.
Sejak itu aku selalu makan biskuat untuk sarapan, hingga aku kembali ke tanah Jawa.
Dari beberapa jenis biskuat, hanya biskuat warna putih yang kusuka. Yang lain tidak, entah kenapa. Biskuat putih kotak itu rasanya istimewa, berbeda dengan yang lain. Memang sih rada lengket di gigi, tapi lama-lama lumer sendiri kok 😀
Kalo ngomongin biskuit, sebelum makan biskuat, aku suka roma biskuit kelapa. Biskuit kelapa ini kumakan sewaktu kuliah. Tapi sayangnya, lengket bukan main 😀
Nah, selera nomor satu sebenarnya marie regal.
Cuman masalahnya, biskuit satu ini mahalnya bukan main. Masih belum terjangkau kantong untuk jadi makanan ringan reguler.
Well, setidaknya ada biskuat. Murah meriah dan enak 😀
Be First to Comment