Heah, mumpung lagi ada semangat ngeblog, aku mencoba menambahkan 1 entri lagi di koleksi tulisanku. Kali ini tentang sepakbola.
Kebetulan tadi sekilas aku melihat pertandingan Arsenal – Portsmouth dalam kompetisi Liga Inggris. Hanya satu yang dapat kusimpulkan: mereka berkomunikasi melalui bola! Ya, contohnya ketika Arshavin mengoper bola ke Eboue, seakan-akan Arshavin tahu ke mana Eboue akan bergerak, dan sebaliknya, Eboue seperti terdorong untuk meneruskan overlap ke depan gawang, walau sayang tidak berbuah gol.
Satu kejadian lagi, ketika seorang gelandang Arsenal mengoper bola ke pemain sayap kanan, padahal di antara sang gelandang dan pemain sayap ada seorang pemain lain, tetapi ia seperti telah mengetahui untuk siapa operan itu. Luar biasa!
Ingatanku langsung bergerak, sepertinya aku pernah melihat pola seperti ini. Di komik Fantasista tepatnya! Sang protagonis Teppei Sakamoto dan kawan-kawannya diajari bagaimana “memasukkan kata-kata dalam operan bola”. Ini persis seperti yang sedang dipraktekkan Arsenal! Bolanya mengalir dengan indah, dan setiap pemain yang memegang bola tahu ke mana bola ini akan diarahkan. Tentu saja ini ditunjang dengan pergerakan tim di mana setiap orang yang tidak memegang bola berusaha memposisikan diri siap untuk dioperi. Si pemegang bola selalu punya jalur operan, berbeda dengan lawannya, Portsmouth, yang selalu kebingungan setiap kali membawa bola yang akhirnya berujung pada opsi untuk menggiring sendiri atau umpan jauh langsung ke depan. Sungguh kurang efektif karena defender Arsenal berada di belakang bola.
Tampaknya Arsene Wenger memang pantas dijuluki Sang Profesor yang mampu mengubah imajinasi menjadi kenyataan.
Kalau nggak salah, ferguson pernah ngomong, bahwa pesaing terberatnya di premiership itu bukan benitez/liverpool, tapi justru wenger/arsenal. Penjualan adebayor ke City jelas membuat mereka kaya mendadak, dan bisa mendapatkan pemain2 muda berkualitas. Ternyata bener, dua pertandingan pembuka mereka membukukan 10 gol. Dahsyat 🙂
yea, permainan Arsenal memang enjoyable terlepas mereka bikin gol atau tidak.
hanya masalahnya, ideologi mereka terbentur tuntutan fans akan gelar juara. ini kukira sudah sangat sering dikeluhkan Wenger.
juga ketika sepakbola indah yang bertumpu pada gelandang kreatif itu kehilangan sang fantasista, sepertinya taktik Wenger jadi rada mandek, tapi masih bisa dimaklumi karena skuad Arsenal masih sangat belia.
betul betul betul … tapi kebanyakan fantasista lahir dan besar di italia sesuai dengan asal nama fantasista itu sendiri. ‘melihat yang tidak terlihat’
hehe, Anda lebih tahu daripada saya. thanks infonya 🙂