Lukas 18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Hatiku mencelos tiap kali mendengar kasus pajak yang mencuat dan diberitakan secara besar-besaran di media massa. Sejak kasus Gayus tempo hari, plus kasus-kasus yang mengikutinya, semua pegawai pajak dicap rampok. Aku semakin terpukul karena nyatanya teman-teman dekatku pun -dari kata-katanya- ikut menuduhku sebagai anggota kelompok koruptor paling kotor sejagat raya.
Setiap orang yang menanyakan pekerjaanku, dan kujawab “kerja di pajak”, tentu berpikiran kalau duitku banyak, dengan gaji maupun sabetan yang mungkin kuterima, layaknya pemungut cukai yang memeras uang rakyat dan menimbun kekayaan diri sendiri.
Kenyataannya tidak demikian yang ada padaku. Aku hidup dari gajiku sendiri yang kuterima rutin setiap bulan. Aku tidak menerima segala jenis sabetan dari wajib pajak manapun. Mungkin gajiku sedikit lebih baik dibandingkan pegawai fresh graduate lain, dan aku bersyukur untuk itu, walaupun pengeluaran di Jakarta juga tidak sedikit, belum lagi tuntutan untuk menabung demi masa depan yang lebih baik. Dan kurasa gaji itu sepadan dengan risiko pekerjaan sebagai pegawai negara yang terikat ketat pada segala peraturan yang berlaku, belum lagi kemungkinan mutasi hingga ke seluruh pelosok tanah air. Belum lagi pekerjaan administratif yang benar-benar tidak membahagiakan karena jauh dari ilmu yang kudapat dengan susah payah di bangku kuliah yang dibiayai dengan menggadaikan rumah orangtua.
Aku sama sekali tidak hidup bergelimang harta. Di kamar kosku yang kurang dari 3×3 meter ini hanya ada sebatang laptop tua dari usaha sampingan sebelum aku masuk ke direktorat, satu hp nokia e65 dan satu hp fren -keduanya pemberian pacarku-, tak ada LCD TV, blackberry, maupun smartphone. Jangankan AC, kipas angin pun tak tersedia di kamarku. Aku hidup sederhana, inilah pilihanku, dan seginilah yang kumampu.
Aku tak menampik dosa bawaan para kolegaku yang mungkin akan terus melekat selama aku bekerja di sini. Yang kuharapkan, semoga Tuhan mengasihani aku orang berdosa ini.
Kok kayak bahasa Ebiet G Ade gitu yah.. hahaha..
Santai aja bro, you are not alone dah klo urusan dikatain rampok..hihi.. 😀