Kali ini aku ingin bercerita tentang seorang temanku, Adam. Pertama kali kenalan pas kuliah kalkulus, mata kuliah tersulit bagiku. Adam ini tipikal orang yang belum tercemar racun kota; ia jujur dan sangat suka menolong. Aku yang waktu itu serba kekurangan tentu saja sangat tertolong setiap kali ia mentraktirku makan. Memang rasanya tidak enak hati, tapi namanya rejeki jangan ditolak, ya kan? Hehehe.
Aku tak akan melupakan supportnya saat aku gagal dalam pendadaran. Saat itu rasanya aku mau mati saja. Bagaimana tidak, skripsi ini kukerjakan tiap hari hingga jauh malam bahkan tak jarang sampai dini hari. Belum lagi berjuang bertemu dosen tiap 2-3 hari sekali. Ujianku pun dipersulit dengan hilangnya surat pemberitahuan ujian yang seharusnya kuterima jauh hari sebelumnya, tetapi aku baru tahu sehari sebelum ujian, yaitu 2 hari selepas libur akhir tahun.
Jika saat itu tak ada Adam yang menopangku, aku tak tahu bakal jatuh seberapa dalam. Memang sih ada beberapa teman yang menyemangatiku lewat sms, tetapi Adamlah yang tetap ada di sana, menemaniku hingga aku menemukan asaku kembali.
Mungkin ia tak pintar di bidang software engineering, tetapi jangan ragukan pengetahuannya soal hardware komputer! Dengan banyaknya referensi yang ia baca, bukan hal sulit baginya untuk menilai suatu produk dari vendor tertentu, atau bahkan menbadingkannya dengan produk dari vendor lain.
Ketika kami berdiskusi tentang sesuatu, kualitas setiap argumen yang ia kemukakan pun tak pernah mudah kupatahkan, karena sering disertai dengan data-data akurat. Dan seperti halnya orang-orang dari daerah, ia tak cepat naik darah sebelum mengetahui duduk perkaranya sampai jelas. Tentu saja dengan sifatnya ini ia menjadi penasihat yang baik untukku yang hot-blooded ini.
Aku pun kagum dengan tekad kuatnya untuk terus berjuang demi usahanya mengklaim gelar sarjana komputer. Tak ada sedikitpun keraguan di matanya, walau akan ada kesulitan yang menghadang.
Teman di saat senang, saudara di saat susah. Itulah Adam. Adam Nur Iman.
Be First to Comment