Aku gerah tiap kali ada orang yang bicara bernada menyalahkan wasit, terutama jika klub kesayangannya kalah. Sepertinya mereka ini tak mau mengakui bahwa klubnya bermain lebih buruk dibandingkan lawannya dan pantas kalah. Memang mungkin ada beberapa kesalahan yang dibuat wasit, namun bukankah itu suatu konsekuensi menggunakan “wasit manusia”? Apakah mereka tak mengerti bahwa manusia sangat tidak akurat dan mengambil keputusan berdasarkan intuisi?
Aku tak memungkiri mungkin saja ada wasit yang cenderung memberi keuntungan satu pihak demi keuntungan diri sendiri, namun berapa persenkah kasus seperti ini dibandingkan dengan jumlah orang yang menyalahkan wasit? Rasanya tak adil jika semuanya dialamatkan ke wasit. Toh jika manusia tak lagi dipercaya menjadi wasit, orang bisa menggunakan komputer. Use the computer and blame it! Tentu saja orang punya sifat dasar menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang ia lakukan, benar kan?
Aku pernah sekali menjadi hakim garis, dan pada satu kesempatan itu aku dibuat sangat kecewa pada perilaku dan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut para penonton, yang notabene mereka adalah saudara-saudaraku, dan terlebih lagi ini bukan ajang serius. Kata-kata mereka sangat menyakitkan, dan sebagai darah muda yang mudah menggelegak waktu itu, aku pun menantang mereka untuk menggantikanku sebagai wasit dan melihat apakah mereka lebih baik dariku yang disalahkan karena tak becus memberi offside.
Tekanan sebagai wasit amat tinggi, pun walau begitu tampaknya tak ada wasit yang bergaji lebih tinggi daripada pemain bola kelas wahid. Sungguh suatu ironi.
Pernah ada kasus di mana wasit yang memberi kartu merah David Beckham diteror oleh fans yang tak terima oleh kejadian itu. Sungguh suatu kejadian biadab. Hanya karena human error, wasit menjadi “enemy number one”.
Namun semoga kelak hal ini dapat berubah….
Be First to Comment