Suddenly Feeling Lonely

Judulnya cuma buat keren-kerenan…

James Blunt
Carry You Home lyrics

Trouble is her only friend and he’s back again.
Makes her body older than it really is.
She says it’s high time she went away,
No one’s got much to say in this town.
Trouble is the only way is down.
Down, down.
As strong as you were, tender you go.
I’m watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I’ll carry you home.
I’ll carry you home.
If she had wings she would fly away,
And another day God will give her some.
Trouble is the only way is down.
Down, down.
As strong as you were, tender you go.
I’m watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I’ll carry you home.
I’ll carry you home.
And they were all born pretty in New York City tonight,
And someone’s little girl was taken from the world tonight,
Under the Stars and Stripes.
As strong as you were, tender you go.
I’m watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I’ll carry you home.
I’ll carry you home.
As strong as you were, tender you go.
I’m watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I’ll carry you home.
I’ll carry you home.

Tiba-tiba aku mendengar lagu milik si James Blunt yang sendu ini, dari folder yang kuberi nama singles.
Tentang kesepian, tentang keputusasaan, tentang kematian.

Aku berada di kota gudeg Yogyakarta. Demi menuntut ilmu dalam keadaan yang serba terjepit, tak dapat dihindari perasaan ngilu itu merasuk ke sukma. Ketika tak ada yang bisa diandalkan, menyerah, dan biasanya aku dolan ke kamar sebelah. Ke kamar opa, Mikhael Fallo.
Tak akan pernah sepi dari jamuan, setidaknya secangkir kecil kopi hitam menemani kami berdua yang memang terasing dari hingar bingar kota pelajar. Hanya beberapa topik untuk dibicarakan, sisanya kami termenung dengan lamunan masing-masing sambil menikmati lagu-lagu dari radio Sonora.
Sementara dia merenungi skripsi yang tampaknya tak akan bisa selesai, diriku meratap pada kegagalan besarku saat ujian kelulusan.

Tiga tahun kemudian, dari sekian banyak kegagalan, akhirnya inilah aku, orang kampung yang (lagi-lagi) merantau, kali ini ke ibukota. Pun demikian, sama seperti tiga-empat tahun lalu, aku ingin dolan ke kamar sebelah dan menyeruput segelas kopi hitam, demi sedikit saja bernafas lepas.
Namun sayang, opa tak ada di sini. Entah di mana dia. Sementara aku dengan (lagi-lagi) kesepianku yang makin lama makin berat, seiring malam yang semakin pekat.

Sementara orang sibuk dengan tiket bioskop dan makan malam, diriku mencoba memeras otakku, barangkali ada yang masih bisa dipakai demi karya berikutnya. Demi legacy. Demi diriku sendiri untuk diakui.
Demi melarikan diri dari segala tanggungjawab akibat segala yang kuketahui. Demi mencari pembenaran atas segala pencarian jawaban atas segala pertanyaan.
Demi apa?

Barangkali opa bisa memberikan pendapatnya, yang selalu diakhiri dengan “atau bagaimana?”
Atau bagaimana jika aku berpura-pura menjadi orang lain? Atau bagaimana jika aku berpura-pura tidak peduli?
Atau bagaimana jika aku mati saja? Tidak, aku tak sepemberani itu.
Atau seharusnya aku menjawab: Tidak, aku tak sepengecut itu.

Entahlah.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.