Iseng-iseng muter lagu ini, jadi keinget jaman-jaman SMA. Waktu itu aku jauh lebih urakan dibandingkan sekarang, hehehe.
Lagu-lagu Nirvana punya kenangan yang cukup banyak, mengingat bahwa lagu-lagu itu adalah bahan karya ilmiah semasa kelas 2. Lagu semacam smells like teen spirit di atas, come as you are, the man who sold the world, di jaman itu terlalu sakral untuk tidak dinyanyikan dengan jingkrak-jingkrak sambil triak-triak di siang bolong. Wew.
Buku curhat kelas -di taun-taun segitu buku curhat masih ngetren-, kucoreti dengan mister smiley yang lagi teler. Gambar bulet, dua silang sebagai mata, garis meliuk-liuk sebagai mulut, diakhiri dengan kurva terbuka U untuk menandai lidahnya yang melet. Yay!
Biarpun urakan, tapi nggak pernah ada cerita aku berantem, sebagai akibat dari pendidikan mental a la sekolah Katolik. Baju bebas boleh, rambut gondrong silaken, tapi tak ada ampun untuk siswa yang pukul-pukulan 😀
Cuma satu yang kurang: sendal jepit seharusnya jadi barang wajib menggantikan sepatu necis, demi kebersamaan dan menimbulkan kesan merakyat. Ahaha yang ini aku becanda. Teteplah harus pake sepatu, mengingat waktu itu sekolah ngingu kambing, yang ranjaunya tak jarang tersebar hingga ke depan kelas tiap kali si mas penjaga sekolah ketiduran, atau ada siswa yang lupa menutup pagar pembatas lapangan. Okelah, berarti kambing di sini sudah bisa mewakili karakter kerakyatan sekolah kami.
Di antara Nirvana dan kambing terdapat banyak cerita yang sepertinya perlu beberapa jilid untuk diceritakan seluruhnya. Sekian.
Be First to Comment