kalau es enak diserut, kalau aspal?
Entah apa yang ada di pikiran orang-orang ini. Entah siapa yang dapat ku-refer dengan istilah “orang-orang ini” dalam kalimat sebelum ini. Pasalnya, seruas jalan di Kendal terserut. Itu lho, bergaris-garis kayak habis digaruk pake garpu. Garpu raksasa pastinya 😀
Nggak tanggung-tanggung, ruas jalan yang terserut ini cukup panjang. Pada mulanya ada 1 ruas sepanjang sekitar 2 km, diukur dengan speedometer shogun standar. Nah, belum selesai serutan ini ditambal, muncul lagi serutan lain di ruas jalan berikutnya, tak jauh dari ruas pertama yang berada dekat dengan pabrik gula Cepiring.
Aku pun mengkonfirmasi hal ini pada temanku yang memang tinggal di Kendal, kebetulan ruas jalan ini berada di jalan raya depan gang yang menuju rumahnya. Katanya, ruas jalan yang terserut ini telah memakan korban setidaknya 1 jiwa melayang, akibat terjatuh dari motor dan terlindas truk.
Jalur ini memang sangat padat karena termasuk jalur utama Pantura yang dilalui banyak kendaraan dari waktu ke waktu, tidak hanya sepeda motor dan mobil pribadi, bus dan truk ukuran besar tak jarang melintas. Tetapi mengapa, jalanan sampai diserut aspalnya tanpa ada tindakan lebih lanjut. Barangkali ini memang prosedur awal untuk penebalan aspal, terus terang aku tak tahu, tetapi yang kutahu, jeda antara kemunculan serutan dengan perbaikan aspal sangat panjang, sekitar sebulan lebih. Itu pun baru dikerjakan separuh lebar jalan, dan itu artinya potensi kecelakaan lalu lintas masih ada.
Masih menurut temanku, kontraktor perbaikan jalan sengaja menyerut jalan agar dana perbaikan jalan cepat turun sehingga si kontraktor tak perlu lama menunggu pencairan dana. Sudah jadi rahasia umum bahwa tender dan pekerjaan kontrak di Indonesia itu acakadut, penuh intrik, dan korupsi di sana-sini. Tetapi yang ini benar-benar keterlaluan.
Kalau ada yang terluka akibat serutan jalan ini, siapa yang bertanggungjawab?
Oh come on guys, dewasalah! Jangat tukar uang dengan keselamatan orang banyak!
Be First to Comment