Sejak lahir sampai sekarang, entah berapa kali aku sudah mendengar frase ini. Mungkin Anda juga. Tapi rupanya deretan kata ini masih punya makna yang tak lekang oleh waktu. Sebuah posisi harus diisi oleh orang yang benar untuk menghasilkan performa yang optimal. Rupanya ada 2 hal yang nyangkut di makna ini hari ini.
Ada sebuah penyesalan yang kurasakan waktu di kantor lama, ketika aku melihat seorang teman yang web programmer itu dialihfungsikan ke tim support yang ngurusin aplikasi desktop yang nyata-nyata jauh dari skill yang dia punya. Walhasil, sejak awal hingga akhir masa kontrak kerja yang setahun itu dia sepertinya dianggap kurang perform. Cuma gara-gara kerjaan codingnya kurang ada reportingnya, dia dianggap bekerja tanpa hasil.
Faktanya, dia sekarang punya jaringan kerja yang luas, sangat berkembang ilmunya yang berbasis open-source dan web-based itu, ditambah lagi pengalamannya menangani sistem informasi kelas serius. Bahwa ternyata dia juga seorang pujangga, siapa yang sangka?
Kedua. Pagi tadi seorang kolegaku secara tidak biasa sambil mengantarkan surat-surat dinas duduk di kursi sebelahku dan mulai bercerita.
Tadi malam ada film bagus. Filmnya sarat makna. Makna ini disiratkan di cerita tentang 2 polisi yang kerja di LAPD, mereka tergabung di pasukan SWAT-nya. Nah, 2 orang ini cerdas lah pokoknya. Tapi yang namanya aturan kan harus dijalankan, walau kenyataan di lapangan agak susah menerapkan. Nah, polisi yang 2 ini sebenarnya cerdas. Mereka berimprovisasi untuk meningkatkan performa dalam menangkap penjahat, tapi atasannya nggak suka dengan cara-cara mereka ini, yang terus membuat keputusan menurunkan pangkat mereka. Polisi yang satu memilih keluar, sedang yang satunya lagi dipindahkan ke bagian gudang.
Rupanya ada perwira yang sedang membuat tim SWAT baru, dan si polisi yang dipindah ke gudang tadi ditarik ke tim SWAT yang baru dibentuk.
Cerita berikutnya, tim ini berhasil membekuk penjahat internasional. Tapi si penjahat ini berkoar di depan televisi, siapapun yang berhasil membebaskan dia dari polisi akan mendapat hadiah sekian juta dolar. Maka dimulailah misi SWAT untuk memindahkan si penjahat ini dari ruang tahanan polisi ke penjara yang lebih ketat. Dan pada akhirnya si polisi gudang tadi harus berhadap-hadapan dengan mantan polisi temannya yang desersi tadi.
Inti ceritanya, sebagus apapun potensi dan kemampuan seseorang, kadang tergantung juga pada atasannya.
Kalau kurasa-rasa, cerita ini mirip dengan apa yang dialami kolegaku ini. Sudah sekolah susah-susah, masuk ke kantor pusat, eh dipindah jadi sekretaris yang ngurus surat-surat. Karirnya seperti macet. Walaupun dia itu sekretaris direktur, yang kadang sibuk luar biasa, tapi siapapun dengan mudah menganggap remeh kerjaannya.
Cristiano Ronaldo. Pemain bola termahal saat ini. Apa jadinya kalau dulu dia memilih tinju sebagai tempat berkarir? Apakah dia akan jadi sehebat Pac Man, Oscar De La Hoya, atau Crisjon? Atau, gimana nasib para programmer Java kalau James Gosling dulu misalnya memilih berkarir sebagai bankir?
Moral dari postingan yang bertele-tele ini adalah, pilihlah pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan kesenangan dan kemampuan Anda. Di mana kemampuan terbaik Anda akan keluar, di situlah tempat Anda. Tapi bagi Anda yang masih terjebak dalam situasi yang stagnan, jangan menyerah. Untuk keadaan yang seperti ini aku yakin masih ada peluang untuk maju kalau kita berusaha lebih keras.
Gimana kalau ada yang belum tahu kesenangan dan kemampuannya? Bertapa aja dulu 😀
Be First to Comment