Ratapan 8 Bulan

“Aku wingi neng Jakarta wae nganti kudu ngedol wedhus siji. Padahal kuwi wedhus sing arep tak wenehne omku.”

Terjemahan:
Aku kemarin untuk pergi ke Jakarta saja sampai harus menjual seekor kambing. Padahal kambing itu mau kuberikan kepada pamanku.

Itulah yang diucapkan temanku tepat kemarin sore, saat perjalanan pulang ke homebase. Langsung saja mulutku terkatup rapat setelah sebelumnya membanding-bandingkan keparahan perekonomian para CPNS yang tak kunjung membaik.
Sampai segitu parah, karena ia harus pula menanggung ibu dan kedua saudaranya yang sedang kuliah. Perkiraan rapelan pun selalu meleset. Kini jangankan tanggal rapelan, tanggal kapan ia mendapatkan NIP saja tak ada kejelasan.
Hingga sekarang, setelah 8 bulan penerimaan, gaji normal tak kunjung diterima. Memang ada kucuran 900ribu perbulan ke rekening, namun tetap saja masih jauh dari harapan.

Unik, di Indonesia ini sangat banyak orang yang berpenghasilan kurang dari 900 ribu sebulan dan masih tetap hidup. Tetapi lain ceritanya karena angkatan kami rata-rata sudah punya pengalaman kerja cukup banyak, dan banyak pula yang sudah berkeluarga. Barangkali mereka sebenarnya sudah mapan dengan pekerjaan mereka sebelum ini, namun dengan prospek yang terlihat cerah, kami melepaskan pekerjaan kami yang lumayan dan bergabung dalam institusi.
Tak disangka, masalah gaji saja bisa berlarut-larut hingga 8 bulan (dan sepertinya masih harus menunggu).
Aku sendiri bulan ini masih bisa makan warteg, walaupun celengan uang sudah terkuras hampir sampai ke dasarnya.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.