Piala Dunia 2014 : Spanyol Versus Belanda

Piala Dunia 2014 memberikan kejutan. Juara bertahan Spanyol dikandaskan Belanda dengan skor 1 – 5 dalam pertandingan pertama grup B. Sungguh mengejutkan karena Spanyol merupakan tim kuat yang dibangun sejak era almarhum Luis Aragones pada Piala Dunia edisi 2006. Pemain-pemain Spanyol bukanlah pemain kelas dua, namun mereka merupakan starting lineup tim-tim raksasa seperti Barcelona dan Real Madrid. Namun pertandingan melawan Belanda merupakan antitesis dari pola tiki-taka.

Taktik sepakbola merupakan sesuatu yang tidak memiliki standar baku. Semua taktik yang dimainkan oleh tim manapun pasti memiliki kelemahan. Permasalahannya tinggal bagaimana lawan mengeksplorasi kelemahan tersebut dengan taktik maupun skill pemain. Tiki-taka yang beberapa tahun belakangan ini dianggap sebagai taktik terbaik, mulai menemukan lawan yang seimbang. Salah satu pertandingan yang akan selalu diingat adalah ketika Inter Milan yang dilatih Jose Mourinho saat itu berhasil mengalahkan Barcelona pada final Liga Champions. Meski dianggap memainkan sepakbola negatif, namun beberapa ahli berpendapat bahwa itulah taktik satu-satunya yang telah terbukti mampu mengalahkan tiki-taka. Malam tadi, sekali lagi tiki-taka mampu ditaklukkan oleh tim Belanda yang datang dengan skuad muda seperti Bruno Martins Indi yang masih berada pada usia awal 20-an.

Memahami bahwa titik sentral tiki-taka ada pada lapangan tengah, maka tim Belanda menerapkan strategi pressing ketat pada pemain kunci Spanyol yakni Xavi Hernandez. Pemain ini terkenal karena passing akurat dan visi bermain yang tajam. Maka para pemain Belanda akan segera melakukan pressing segera setelah kehilangan bola, dan cepat mengalirkannya ke depan. Bahkan tim ini memanfaatkan penjaga gawang untuk memberikan umpan langsung ke depan yang diperkuat oleh 2 pemain kunci yaitu Arjen Robben dan Robin van Persie. Kedua ini memiliki kekuatan dan kecepatan di atas rata-rata dan sayang sekali Gerard Pique selalu terlambat menutup pergerakan van Persie sehingga terciptalah gol pertama Belanda.

Spanyol tampak telah kehilangan kecepatan. Usia pemain seperti Xavi dan Andres Iniesta tentu saja mempengaruhi permainan Spanyol yang seharusnya cepat dan akurat. David Silva yang dipasang untuk meningkatkan kecepatan serangan tampak bekerja sendirian dan tidak mendapat dukungan yang cukup. Sementara Diego Costa di ujung tombak tampak masih canggung karena cemoohan publik Brasil, akibat keputusannya membela Spanyol alih-alih membela tanah kelahirannya.
Masuknya Fernando Torres menggantikan Diego Costa nampaknya terlambat karena Spanyol sudah berada dalam kondisi tertekan, dan Cesc Fabregas juga tidak mampu memberi dampak yang signifikan terhadap pola permainan Spanyol.

Vicente Del Bosque patut dipertanyakan karena terlalu kaku pada skema tiki-taka, padahal di tahun ini Barcelona yang dianggap sebagai kiblat tiki-taka gagal total di semua kompetisi yang mereka ikuti dan nirgelar pada tahun ini. Bahkan Pep Guardiola sebagai orang yang memperkenalkan kembali gaya total football, mengadaptasi pola permainan modern pada FC Bayern yang ditukanginya dengan menempatkan 2 inverted winger dalam diri Robben dan Franck Ribery. Sementara Del Bosque tidak mampu beradaptasi untuk menutup celah tiki-taka yang sepertinya telah ketinggalan zaman.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silakan selesaikan soal berikut * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.